Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso, merupakan wilayah yang mengalami krisis air akibat kekeringan berkepanjangan pada tahun 2023 hingga pertengahan 2024. Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga dan menurunkan produktivitas sektor pertanian, khususnya di Dusun Plampang, Desa Klekehan. Sebanyak 96 kepala keluarga mengalami kekurangan air bersih secara ekstrem, sementara ratusan lainnya terdampak dalam tingkat yang lebih rendah. Keterbatasan ketersediaan air menyebabkan lahan pertanian seluas sekitar 2000 hektar hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun. Tujuan kegiatan ini adalah mengembangkan sarana tanggul sebagai prasarana penampungan air yang dilengkapi pompa hydrant guna meningkatkan ketersediaan air bagi kebutuhan domestik dan irigasi secara berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi, tanya jawab, dan praktik lapangan selama 8 jam dengan melibatkan 35 peserta. Kegiatan ini mencakup perencanaan desain berbasis perangkat lunak AutoCAD, pelatihan teknis kepada masyarakat, serta pembangunan tanggul secara partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembangunan tanggul setinggi 3 meter menggunakan material lokal mampu meningkatkan kapasitas tampungan air secara signifikan. Debit distribusi air meningkat dari 1000 liter per hari menjadi 1500 liter per hari, yang diukur berdasarkan keluaran pompa hydrant setelah peningkatan volume tampungan. Sebanyak 38 orang terlibat secara aktif dalam proses pembangunan. Peningkatan kapasitas tampungan juga berdampak pada meningkatnya daya dorong pompa serta perluasan jangkauan distribusi air. Kondisi ini berimplikasi pada potensi peningkatan intensitas masa tanam. Kesimpulan pembangunan tanggul hydrant terbukti efektif dalam meningkatkan ketersediaan air serta mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan kebutuhan masyarakat secara signifikan.