Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi eksisting pemanfaatan ruang di sekitar Kawasan Peruntukan Industri (KPI) di Kabupaten Luwu Timur, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab penyimpangan pemanfaatan ruang, serta merumuskan strategi pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif dan implementatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan jenis penelitian deskriptif-analitis dan pendekatan studi kasus. Analisis dilakukan melalui analisis spasial untuk menilai kesesuaian pemanfaatan ruang terhadap rencana tata ruang, analisis kualitatif deskriptif untuk mengidentifikasi faktor penyebab penyimpangan, serta analisis SWOT-AHP untuk merumuskan dan menentukan prioritas strategi pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang di sekitar KPI Kabupaten Luwu Timur bersifat dinamis dan kompleks, ditandai oleh tingginya tekanan pertambangan dan industri, pertumbuhan aktivitas pendukung kawasan, serta ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan RTRW, termasuk tumpang tindih PKKPR/RKKPR. Faktor penyebab utama meliputi tekanan ekonomi dan investasi, ketidaksinkronan tata ruang dan perizinan, lemahnya pengawasan, keterbatasan kelembagaan, serta konflik penguasaan lahan. Strategi pengendalian yang diprioritaskan meliputi percepatan penyusunan RDTR, penguatan koordinasi dan integrasi data, peningkatan pengawasan, serta penguatan sosialisasi dan penegakan hukum. This study aims to analyze the existing condition of spatial utilization around the Industrial Allocation Area (KPI) in Luwu Timur Regency, identify the factors causing spatial utilization deviation, and formulate effective and implementable control strategies. The study employed a mixed-method approach with a descriptive-analytical design and a case study strategy. The analysis included spatial analysis to assess conformity between actual land use and the spatial plan, descriptive qualitative analysis to identify the causes of deviation, and SWOT-AHP analysis to formulate and prioritize control strategies. The findings show that spatial utilization around the KPI in Luwu Timur is dynamic and complex, characterized by strong mining and industrial pressures, the growth of supporting activities, and inconsistencies with the spatial plan, including overlapping PKKPR/RKKPR permits. The main causal factors include economic and investment pressure, lack of synchronization between spatial planning and licensing, weak supervision, limited institutional capacity, and land tenure conflicts. The priority control strategies include accelerating RDTR preparation, strengthening coordination and data integration, improving supervision, and reinforcing public outreach and law enforcement.