Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial masyarakat Kediri dalam menjaga ekosistem Goa Selomangleng melalui nilai-nilai mistis dan kesakralan yang berkembang di lingkungan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori Konstruksi Sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann sebagai pisau analisis. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan juru pelihara situs, petugas pengelola, dan masyarakat sekitar, serta studi dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai mistis dan kesakralan Goa Selomangleng telah dikonstruksi secara sosial melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi sehingga menjadi pedoman perilaku masyarakat. Berbagai mitos, kepercayaan lokal, larangan adat, serta ritual budaya berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan, melestarikan flora dan fauna, serta menghormati kawasan situs.Di sisi lain, perkembangan pariwisata dan modernisasi menghadirkan tantangan berupa pergeseran nilai budaya, meningkatnya komersialisasi, dan berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap makna kesakralan situs. Namun demikian, masyarakat dan pengelola tetap berupaya mempertahankan keseimbangan antara pelestarian budaya, konservasi lingkungan, dan pengembangan pariwisata melalui berbagai strategi pengelolaan berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi sosial nilai mistis tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai instrumen konservasi lingkungan yang efektif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Goa Selomangleng.