Zurriyani
Fakultas Kedokteran, Universitas Abulyatama, Aceh, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prevalensi dan Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi di Poli Umum Puskesmas Meuraxa Khairinnisa; Zurriyani; Said Aandy Saida
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 4 No. 2 (2026): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v4i2.829

Abstract

Hipertensi merupakan satu dari penyakit tidak menular yang menjadi masalah di bidang kesehatan dan sering ditemukan pada pelayanan kesehatan. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga,  merokok, obesitas, kurangnya aktifitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko terjadinya hipertensi di Poli Umum Puskesmas Meuraxa pada periode Juni-Juli 2025. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang menggunakan data primer yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan teknik total sampling yaitu 112 responden. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Mayoritas pasien hipertensi berada pada kelompok usia dewasa (19–59 tahun). Perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan laki-laki. individu dengan riwayat keluarga memiliki jumlah kasus yang lebih banyak dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki keluarga dengan riwayat hipertensi. sebagian besar penderita hipertensi adalah bukan perokok. Sebagian besar penderita hipertensi termasuk tidak rutin berolahraga  150 menit / minggu. Pasien hipertensi yang masuk kategori obesitas lebih sedikit. Kesimpulannya Ketika seorang pasien tidak mengelola hipertensi mereka, hal ini menjadi sangat berbahaya karena dapat menyebabkan konsekuensi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Masalah ini dapat mempengaruhi otak, mata, jantung, ginjal, dan pembuluh darah arteri, di antara organ-organ target lainnya.
Hubungan Riwayat Neuropati dengan Kejadian Ulkus Diabetikum Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Meuraxa Banda Aceh Sintia Purnama; Zurriyani; Eva Mardalena
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 4 No. 2 (2026): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v4i2.909

Abstract

Latar Belakang: Neuropati diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus (DM) tipe 2 yang berperan penting dalam terjadinya ulkus diabetikum akibat menurunnya sensasi protektif pada ekstremitas bawah. Identifikasi hubungan keduanya diperlukan sebagai dasar upaya pencegahan komplikasi kaki diabetik. Tujuan: Menganalisis hubungan riwayat neuropati dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien DM tipe 2 di RSUD Meuraxa Banda Aceh. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 36 pasien DM tipe 2 yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Riwayat neuropati dinilai menggunakan Michigan Neuropathy Screening Instrument (MNSI), sedangkan derajat ulkus diabetikum diklasifikasikan berdasarkan kondisi klinis pasien. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Fisher–Freeman–Halton Exact Test dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (61,1%), berusia 56–65 tahun (41,7%), memiliki riwayat neuropati positif (55,6%), dan mengalami gangren terbatas pada kaki (30,6%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat neuropati dengan kejadian ulkus diabetikum (p=0,010). Pasien dengan riwayat neuropati lebih banyak mengalami ulkus diabetikum dibandingkan pasien tanpa neuropati. Kesimpulan: Riwayat neuropati berhubungan signifikan dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien DM tipe 2. Deteksi dini neuropati, pengendalian glikemik, pemeriksaan kaki secara rutin, serta edukasi perawatan kaki diabetik perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya komplikasi.