Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi distorsi simbolis dalam film horor Taiwan Incantation guna mengungkap bagaimana elemen-elemen ikonografi Buddha dimanipulasi ke dalam sebuah narasi horor. Dengan mengidentifikasi proses misrepresentasi yang mengaburkan batas antara tradisi klan lokal dan ajaran agama formal, studi ini memetakan implikasi sosiologis terkait potensi munculnya stigma keagamaan di kalangan penonton modern. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data berbasis dokumen, penelitian ini mendekonstruksi penggunaan elemen teknis sinematik dan fitur keagamaan yang digambarkan dalam film tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Incantation secara sistematis menggunakan "Pseudo-Mudras" (Mudra Semu) dan "Pseudo-Mantras" (Mantra Semu) dalam format found footage untuk menciptakan klaim kebenaran yang memanipulasi batasan antara mitos lokal dan agama institusional. Penggambaran entitas "Mother Buddha" beserta ritual yang menyertainya ditemukan bertentangan secara fundamental dengan prinsip-prinsip Metta (cinta kasih) yang ditekankan dalam Tripitaka. Implikasi dari penelitian ini menyoroti risiko degradasi nilai keagamaan dan stigma negatif, karena penonton dengan literasi keagamaan yang rendah dapat mempersepsikan representasi fiksi ini sebagai kebenaran budaya yang mutlak. Orisinalitas dari penelitian ini terletak pada dekonstruksi teknis dari elemen-elemen "semu" (pseudo) di dalam genre found footage, yang secara khusus mengisi celah literatur mengenai pengaruh distorsi simbol-simbol sakral terhadap persepsi lintas budaya di era media baru.Kata Kunci: Incantation, Agama Buddha, Dekonstruksi, Found Footage, Distorsi Simbolis.