Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih sering tidak terdeteksi, khususnya pada populasi dewasa produktif, meskipun berdampak terhadap kapasitas fungsional dan produktivitas. Skrining hemoglobin berbasis komunitas diperlukan sebagai upaya deteksi dini dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya status hematologis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) pada 109 partisipan dewasa. Tahap Plan mencakup identifikasi masalah dan perencanaan skrining anemia; tahap Do berupa pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan metode point-of-care testing (POCT) disertai edukasi kesehatan; tahap Check meliputi evaluasi hasil berdasarkan nilai rujukan; dan tahap Act berupa konseling serta rekomendasi tindak lanjut bagi peserta dengan anemia. Data dianalisis secara deskriptif. Rerata usia partisipan adalah 42,81±13,55 tahun dengan dominasi perempuan (67,9%). Rerata kadar hemoglobin tercatat sebesar 11,67±1,44 g/dL dengan median 11,50 g/dL (rentang 7,10–14,90 g/dL). Secara kategorikal, sebagian besar partisipan mengalami anemia (73,4%), sedangkan 26,6% berada dalam kondisi normal. Distribusi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan kadar hemoglobin yang lebih rendah pada perempuan dengan variasi yang lebih luas, termasuk nilai ekstrem pada kelompok anemia. Skrining anemia berbasis komunitas dengan pendekatan PDCA efektif dalam mengidentifikasi tingginya proporsi anemia pada usia produktif. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi promotif-preventif melalui edukasi gizi dan perbaikan pola hidup untuk mencegah dampak lanjutan terhadap kesehatan dan produktivitas.