Alexander Halim Santoso
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

OPTIMALISASI SKRINING STATUS GIZI DAN INDEKS MASSA TUBUH SERTA EDUKASI GIZI SEBAGAI STRATEGI PROMOTIF DAN PREVENTIF DI TINGKAT KOMUNITAS Jeffrey; Alexander Halim Santoso
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan komposisi tubuh, khususnya peningkatan lemak dan ketidakseimbangan massa otot, merupakan faktor penting dalam perkembangan gangguan metabolik yang sering tidak terdeteksi pada populasi dewasa. Penilaian berbasis indeks massa tubuh (IMT) saja tidak cukup menggambarkan risiko metabolik, sehingga diperlukan skrining komposisi tubuh berbasis komunitas sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif.  Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) pada populasi dewasa. Tahap Plan mencakup identifikasi kebutuhan skrining status gizi dan komposisi tubuh; tahap Do berupa pengukuran IMT, basal metabolic rate (BMR), serta komposisi tubuh meliputi lemak visceral, lemak total, lemak subkutan, dan massa otot rangka menggunakan alat bioimpedance analysis, disertai edukasi kesehatan; tahap Check meliputi evaluasi hasil berdasarkan klasifikasi standar; dan tahap Act berupa konseling serta rekomendasi tindak lanjut. Hasil: Rerata usia partisipan adalah 43,67±12,40 tahun dengan dominasi perempuan (64,3%). Rerata IMT sebesar 24,29±4,31 kg/m² dengan lebih dari separuh responden berada pada kategori berat badan berlebih hingga obesitas. Rerata lemak visceral dan lemak tubuh masing-masing sebesar 7,67±4,94 dan 29,24±6,94%, dengan distribusi lemak subkutan yang lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, terutama pada ekstremitas. Massa otot rangka menunjukkan distribusi dominan pada ekstremitas bawah. Skrining komposisi tubuh berbasis komunitas dengan pendekatan PDCA efektif dalam mengidentifikasi beban gizi lebih dan potensi risiko metabolik yang tidak sepenuhnya terdeteksi melalui IMT. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi komprehensif komposisi tubuh serta intervensi promotif-preventif melalui edukasi gaya hidup sehat untuk mencegah perkembangan penyakit metabolik.
DETEKSI DINI PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) BERBASIS SPIROMETRI SEBAGAI UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIF PADA POPULASI DEWASA Hadisono; Alexander Halim Santoso
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan fungsi paru merupakan proses yang berlangsung secara gradual dan sering kali tidak terdeteksi pada populasi umum, terutama pada usia dewasa hingga lanjut. Kondisi ini dapat berdampak pada kapasitas fungsional, toleransi aktivitas, serta meningkatkan risiko penyakit respirasi kronis. Oleh karena itu, skrining fungsi paru berbasis komunitas menjadi penting sebagai bagian dari strategi promotif dan preventif untuk mengidentifikasi gangguan ventilasi sejak dini. egiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan manajemen mutu Plan–Do–Check–Act (PDCA) pada 98 partisipan dewasa. Tahap Plan mencakup identifikasi kebutuhan skrining dan perencanaan kegiatan; tahap Do berupa pemeriksaan fungsi paru menggunakan spirometri, disertai edukasi kesehatan; tahap Check meliputi evaluasi hasil berdasarkan nilai rujukan untuk mengidentifikasi gangguan ventilasi; dan tahap Act berupa pemberian konseling serta rekomendasi tindak lanjut. Rerata usia partisipan adalah 43,67±12,40 tahun dengan dominasi perempuan (64,3%). Rerata nilai FVC tercatat sebesar 67,07±25,01%, dengan mayoritas peserta berada dalam kategori menurun (67,4%), yang mengindikasikan adanya penurunan kapasitas paru. Rerata FEV₁ sebesar 86,19±2,70% dengan 64,3% partisipan mengalami penurunan. Sementara itu, rasio FEV₁/FVC memiliki rerata 1,51±0,70 dan sebagian besar berada dalam kategori normal (95,9%). Pola ini menunjukkan kecenderungan gangguan ventilasi tipe restriktif. Distribusi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan rasio FEV₁/FVC yang bersifat heterogenitas fungsi paru antar individu. Skrining fungsi paru berbasis komunitas cukup efektif dalam mengidentifikasi penurunan fungsi paru yang bersifat subklinis, terutama dengan pola restriktif. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini serta intervensi promotif-preventif melalui edukasi dan pengendalian faktor risiko untuk mencegah progresivitas gangguan respirasi pada populasi dewasa.  
UPAYA PENINGKATAN KESADARAN DAN DETEKSI DINI ANEMIA MELALUI SKRINING KADAR HEMOGLOBIN PADA KOMUNITAS MASYARAKAT GEREJA BAPTIS CENGKARENG Fadil Hidayat; Alexander Halim Santoso
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih sering tidak terdeteksi, khususnya pada populasi dewasa produktif, meskipun berdampak terhadap kapasitas fungsional dan produktivitas. Skrining hemoglobin berbasis komunitas diperlukan sebagai upaya deteksi dini dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya status hematologis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) pada 109 partisipan dewasa. Tahap Plan mencakup identifikasi masalah dan perencanaan skrining anemia; tahap Do berupa pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan metode point-of-care testing (POCT) disertai edukasi kesehatan; tahap Check meliputi evaluasi hasil berdasarkan nilai rujukan; dan tahap Act berupa konseling serta rekomendasi tindak lanjut bagi peserta dengan anemia. Data dianalisis secara deskriptif. Rerata usia partisipan adalah 42,81±13,55 tahun dengan dominasi perempuan (67,9%). Rerata kadar hemoglobin tercatat sebesar 11,67±1,44 g/dL dengan median 11,50 g/dL (rentang 7,10–14,90 g/dL). Secara kategorikal, sebagian besar partisipan mengalami anemia (73,4%), sedangkan 26,6% berada dalam kondisi normal. Distribusi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan kadar hemoglobin yang lebih rendah pada perempuan dengan variasi yang lebih luas, termasuk nilai ekstrem pada kelompok anemia. Skrining anemia berbasis komunitas dengan pendekatan PDCA efektif dalam mengidentifikasi tingginya proporsi anemia pada usia produktif. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi promotif-preventif melalui edukasi gizi dan perbaikan pola hidup untuk mencegah dampak lanjutan terhadap kesehatan dan produktivitas.
DETEKSI DINI RISIKO SINDROM METABOLIK MELALUI PEMERIKSAAN KOLESTEROL TOTAL DAN HDL PADA KOMUNITAS GEREJA BAPTIS CENGKARENG Robert Kosasih; Alexander Halim Santoso
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dislipidemia, terutama peningkatan kolesterol total dan penurunan HDL, merupakan komponen penting sindrom metabolik yang meningkatkan risiko kardiovaskular. Skrining berbasis komunitas diperlukan untuk meningkatkan deteksi dini pada populasi yang belum terjangkau layanan kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan desain observasional deskriptif berbasis komunitas pada jemaat dewasa di Gereja Baptis Cengkareng, Jakarta (n=109). Kegiatan ini mencakup pemeriksaan kolesterol total dan HDL, disertai edukasi kesehatan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan mengacu pada kriteria NCEP ATP III. Hasil: Rerata usia peserta 42,81±13,55 tahun dengan dominasi perempuan (67,9%). Rerata kolesterol total 213,28±42,14 mg/dL, dengan 61,5% mengalami hiperkolesterolemia. Rerata HDL 45,49±13,03 mg/dL, dengan sebagian besar peserta berada pada kategori rendah (47,7%) dan sangat rendah (35,8%). Distribusi kolesterol menunjukkan kecenderungan meningkat seiring usia, meskipun dengan variasi yang luas. Kesimpulan: Skrining profil lipid berbasis komunitas efektif dalam mengidentifikasi tingginya beban dislipidemia dan berpotensi menjadi strategi promotif-preventif dalam menurunkan risiko kardiovaskular melalui deteksi dini dan edukasi
SKRINING SGOT DAN SGPT UNTUK DETEKSI AWAL RISIKO SIROSIS HEPATIS PADA POPULASI DEWASA DI KOMUNITAS GEREJA BAPTIS CENGKARENG Welly Hartono Ruslim; Alexander Halim Santoso
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan fungsi hati sering berkembang secara subklinis dan berkaitan dengan perubahan metabolik pada populasi dewasa produktif. Pemeriksaan enzim transaminase seperti SGOT dan SGPT dapat dimanfaatkan sebagai indikator awal untuk mendeteksi stres hepatoseluler, sehingga skrining berbasis komunitas yang terintegrasi dengan edukasi kesehatan menjadi strategi penting dalam upaya promotif dan preventif.  Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada komunitas dewasa dengan pendekatan manajemen mutu Plan–Do–Check–Act (PDCA). Tahap Plan mencakup identifikasi masalah dan perencanaan skrining fungsi hati; tahap Do berupa pelaksanaan pemeriksaan SGOT dan SGPT menggunakan metode point-of-care testing (POCT) serta edukasi kesehatan; tahap Check meliputi evaluasi hasil pemeriksaan berdasarkan nilai rujukan; dan tahap Act berupa konseling serta rekomendasi tindak lanjut bagi peserta berisiko. Data disajikan secara deskriptif. Sebanyak 109 partisipan dengan rerata usia 42,81±13,55 tahun dan dominasi perempuan (67,9%) mengikuti kegiatan. Rerata kadar SGOT adalah 24,51±7,44 U/L dan SGPT 25,11±7,72 U/L, dengan seluruh nilai berada dalam kisaran normal. Distribusi menunjukkan kecenderungan kadar SGPT yang sedikit lebih tinggi pada perempuan. Variasi nilai yang moderat mengindikasikan potensi adanya perubahan metabolik awal meskipun belum melampaui batas klinis. Implementasi skrining fungsi hati berbasis komunitas dengan pendekatan PDCA efektif sebagai strategi deteksi dini dan edukasi kesehatan. Meskipun nilai enzim berada dalam batas normal, temuan ini menunjukkan adanya potensi stres metabolik subklinis, sehingga intervensi promotif-preventif sejak dini diperlukan untuk mencegah progresivitas gangguan hati dan penyakit metabolik.