Riska Wahyuni Hasibuan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONTRIBUSI NILAI-NILAI ISLAM TERHADAP PERILAKU GIZI SEIMBANG DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING: TINJAUAN LITERATUR TERHADAP IMPLEMENTASI PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) Muhammad Zali; Lisa Maharani Rizki; Riska Wahyuni Hasibuan; Saschia Amanda; Sarah Atikah; Taufik Hidayat Hasibuan; Wilda Simangunsong
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting masih menjadi permasalahan gizi serius di Indonesia, dengan prevalensi yang memerlukanintervensi multisektoral secara komprehensif. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagaspemerintah pada tahun 2025 merupakan salah satu upaya strategis dalam mengatasi stunting melaluipemenuhan gizi anak usia dini dan ibu hamil. Di sisi lain, nilai-nilai Islam memiliki potensi besar sebagailandasan normatif dalam membentuk perilaku gizi seimbang di kalangan masyarakat Muslim Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi nilai-nilai Islam terhadap pembentukan perilaku giziseimbang serta relevansinya dalam mendukung implementasi Program MBG sebagai upaya pencegahanstunting. Metode yang digunakan adalah studi literatur sistematis terhadap 25 artikel ilmiah dari jurnalnasional terakreditasi SINTA dan repositori ilmiah terpercaya, yang diterbitkan antara tahun 2021 hingga2026. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa ajaran Islam tentang halalan thayyiban, kewajiban menjagakesehatan, dan prinsip keseimbangan (tawazun) secara substansial berkontribusi dalam membentuk polamakan sehat yang selaras dengan rekomendasi gizi modern. Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan kedalam program MBG melalui pendekatan berbasis komunitas keagamaan dan edukasi gizi berperspektifIslam. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya kolaborasi antara lembaga keagamaan, tenagakesehatan, dan pemerintah dalam mengoptimalkan program MBG berbasis nilai-nilai kearifan lokal Islami.Kata Kunci: nilai-nilai Islam, gizi seimbang, stunting, Program Makan Bergizi Gratis, halalan thayyiban
Reconstruction Strategies for Mental Health Services in Post-Conflict Middle Eastern Regions: (A Policy Synthesis) Helsa Nasution; M. Agung Rahmadi; Nazwa Aqela Saragih; Isnaini Fajarwati; Riska Wahyuni Hasibuan; Luthfiah Mawar; Nurzahara Sihombing; Annisa Ardianti Br Tarigan
Jurnal Ventilator Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v3i4.2129

Abstract

This study presents a comprehensive analysis of reconstruction strategies for mental health services in post-conflict regions of the Middle East, based on a meta-synthesis of 87 policies and intervention programs issued between 2010 and 2023. The findings indicate that 73.4 percent of initiatives did not meet their intended targets due to infrastructural limitations, resulting in a service dropout rate of 62.8 percent. The implementation of the Stepped Care Model shows a 47.2 percent improvement in service access (p = 0.001), while the integration of mental health services into primary health care systems increases overall coverage by 56.3 percent (p = 0.001). Task shifting to community health workers enhances efficiency by 38.9 percent (p = 0.01) with a cost-effectiveness ratio of 1 to 2.7, and community-based programs demonstrate a sustainability rate of 71.2 percent compared to 43.5 percent in conventional approaches. These findings build upon the work of Hamamra et al. (2025) and Werner et al. (2023) on post-conflict mental health interventions and show that hybrid models combining formal and informal structures yield better performance, with an effect size (Cohen's d) of 0.82. The main contribution of this study lies in identifying adaptive implementation patterns that align with resource limitations, socio-cultural dynamics, and systemic reconstruction needs in post-conflict settings.