Nafiza Fadhilatul Ulya Damanik
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perspektif Islam terhadap Fenomena Kecanduan Media Sosial dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Muhammad Zali; Nafiza Fadhilatul Ulya Damanik; Emia Enjelita; Zahra Putri Ayuningrat; Nur Salsabila; Zulfadhilah Azzahra; Azzahra Nurfitri Runi Azizah
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan media sosial telah memberikan berbagai kemudahan dalam komunikasi dan akses informasi. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan media sosial yang berdampak pada kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, depresi, gangguan tidur, dan menurunnya kualitas interaksi sosial. Fenomena ini menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian, terutama pada kelompok remaja dan dewasa muda yang merupakan pengguna media sosial terbesar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena kecanduan media social dan dampaknya terhadap kesehatan mental dalam perspektif Islam. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai jurnal ilmiah, buku, dan sumber akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kecanduan media sosial dapat dipahami sebagai perilaku berlebihan (israf) yang bertentangan dengan prinsip keseimbangan (wasathiyah) dalam Islam serta berpotensi mengganggu tujuan syariat dalam menjaga akal (hifz al-‘aql) dan jiwa (hifz al-nafs). Islam menawarkan berbagai upaya pencegahan dan penanganan melalui penguatan adab bermedia sosial, tazkiyatun nafs, muhasabah, dan peningkatan kualitas ibadah. Oleh karena itu, integrasi antara pendekatan Kesehatan masyarakat dan nilai-nilai Islam diperlukan untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sehat dan seimbang di era digital.Kata Kunci: kecanduan media sosial, kesehatan mental, perspektif Islam, kesehatan masyarakat, studi literatur.
Intergenerational Trauma in the Aleppo Community: An Analysis of 13 Years of Conflict Nurzahara Sihombing; M. Agung Rahmadi; Fairuz Azzahra; Sila Tsabita Zahra; Nafiza Fadhilatul Ulya Damanik; Helsa Nasution; Luthfiah Mawar; Winda Yulia Gitania Br Sembiring
Jurnal Ventilator Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v4i1.2206

Abstract

This meta-analysis provides an in-depth evaluation of the dynamics of intergenerational trauma within the Aleppo community over 13 years of armed conflict (2011–2024) through a systematic synthesis of 47 empirical studies involving 12,873 cross-generational participants. The results reveal an exceptionally high psychopathological burden, with PTSD prevalence reaching 68.4% (95% CI = 65.2–71.6) in the first generation and 42.3% (95% CI = 39.1–45.5) in the second generation, indicating a persistent transmission of trauma. Multilevel regression demonstrates a strong and significant association between parental trauma severity and the manifestation of traumatic symptoms in children (r = 0.62, p < .001), underscoring the role of cross-generational determinants in contexts of protracted conflict. Major depressive disorder is identified in 55.7% of parents and 37.2% of children, while anxiety prevalence reaches 61.3% in the first generation and 44.8% in the second generation. Structural equation modeling reveals three principal pathways of trauma transmission, namely maladaptive parenting patterns dysfunctional family communication, and anxiety modeling processes. These findings extend beyond the analyses of Amping et al. (2024) and Rousseau (1998), which focus on single-generation transmission, by identifying more complex cross-generational mechanisms while simultaneously revealing the presence of significant communal resilience (ICC = 0.72), thereby opening strategic space for the development of community-based interventions to disrupt the cycle of intergenerational trauma.