Rizky Rachmadi Pratomo
Universitas Sriwijaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Interpretasi Lingkungan Pengendapan Menggunakan  Analisis Paleontologi dan Petrografi di Daerah Kedungjati dan Sekitarnya, Grobogan, Jawa Tengah Rizky Rachmadi Pratomo; Edy Sutriyono; Ugi Kurnia Gusti
Jurnal Geosains West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Geosains West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jgws.v4i02.3419

Abstract

Daerah Kedungjati di Zona Kendeng memiliki sejarah geologi kompleks yang dikontrol oleh tektonik kompresional, sedimentasi laut dalam, dan pengaruh vulkanisme. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik litostratigrafi, menentukan umur dan lingkungan pengendapan, serta merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian dari Miosen Tengah hingga Pliosen Akhir. Metode penelitian meliputi observasi lapangan pada 101 titik pengamatan, analisis geomorfologi, pengukuran struktur geologi, penampang stratigrafi terukur, analisis petrografi sayatan tipis, dan analisis mikropaleontologi foraminifera. Hasil penelitian menunjukkan tiga satuan stratigrafi yaitu Formasi Kerek, Anggota Banyak Formasi Kalibeng, dan Formasi Kalibeng, serta struktur geologi berupa lipatan dan sesar berarah baratlaut–tenggara. Analisis petrografi mengidentifikasi calcareous subarkose, calcareous mudrock, calcareous lithic wacke, dan tuffaceous litharenite, yang mencerminkan perubahan sumber sedimen dan pengaruh vulkanisme. Analisis mikropaleontologi menunjukkan umur Miosen Tengah hingga Pliosen Akhir (N14–N20) dengan lingkungan pengendapan Batial Atas–Batial Bawah. Kehadiran sekuen Bouma dan asosiasi foraminifera mengindikasikan sistem turbidit dan submarine fan. Evolusi geologi daerah penelitian berlangsung dalam dua fase utama, yaitu pengendapan Formasi Kerek pada Miosen Tengah–Miosen Akhir, diikuti pengendapan Anggota Banyak Formasi Kalibeng dan Formasi Kalibeng pada Miosen Akhir–Pliosen Akhir.