Muklis Efendi
UPN Veteran Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Framing Pemberitaan Isu Ijazah Palsu Joko Widodo pada Media Daring CNN Indonesia dan Liputan6.com Sudarto; Aprilyanti Pratiwi; Muklis Efendi
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/r0aqj566

Abstract

Tuduhan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjadi salah satu isu politik yang paling diperdebatkan di ruang publik digital Indonesia sepanjang 2025 dan memunculkan pertanyaan tentang bagaimana media daring arus utama mengonstruksi realitas politik pada isu sensitif yang menyangkut legitimasi negara. Berlandaskan perspektif konstruksi sosial atas realitas dan teori framing, penelitian ini bertujuan membandingkan cara CNN Indonesia dan Liputan6.com membingkai isu tersebut dengan menggunakan model analisis framing Pan dan Kosicki yang menelaah teks berita melalui empat struktur, yaitu sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis analisis isi kualitatif berbasis framing terhadap enam teks berita yang terbit pada April hingga Agustus 2025, masing-masing tiga berita dari setiap media, dibantu proses koding dan kategorisasi menggunakan perangkat lunak HyperResearch. Hasil penelitian menunjukkan CNN Indonesia membangun bingkai institusional-prosedural yang menonjolkan verifikasi forensik, proses hukum yang sah, dan profesionalisme kepolisian, sedangkan Liputan6.com membangun bingkai konklusif-afirmatif yang memosisikan Jokowi sebagai korban fitnah yang ijazahnya telah terbukti asli secara hukum. Meskipun strategi diskursifnya berbeda, kedua media sama-sama menolak narasi ijazah palsu dan menyelaraskan pemberitaan dengan legitimasi negara serta stabilitas politik. Penelitian menyimpulkan bahwa perbedaan framing antarmedia arus utama bekerja pada level strategi wacana, bukan oposisi ideologis, dan temuan ini berkontribusi pada penguatan literasi media digital masyarakat.