Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

AKOMODASI KOMUNIKASI ETNIS TIONGHOA DAN SUNDA DI SURYA KENCANA BOGOR Aprilyanti Pratiwi; Regiant Fachturahman Nurlatif; M. Girindra Madanacaragni
Jurnal Pustaka Komunikasi Vol 4, No 1 (2021): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/pustakom.v4i1.1349

Abstract

The purpose of this study was to identify the communication accommodation process carried out by ethnic Chinese and Sundanese in Surya Kencana, Bogor. The theory used in this study is Howard Giles' Accommodation Communication Theory (CAT). The results showed that the Chinese ethnic Surya Kencana initially made communication accommodations due to compulsion. However, over time and the positive feedback given by the Sundanese Surya Kencana, the Chinese finally made communication accommodations naturally. In the process of communication accommodation, the two ethnics converged, diverged and over-accomodated. The convergence carried out by Chinese is to use Indonesian mixed with Sundanese when communicating with Sundanese. The convergence carried out by the Sundanese is addressing the Chinese with ethnic greetings, (ko ko and ci ci). The divergence made by the Chinese is to be proud if they are called according to their ethnic origin. Meanwhile, the divergence made by Sundanese is to use Sundanese in a larger portion when interacting with ethnic Chinese. The over-accommodation made by the Chinese ethnic group is saying the word Alhamdulillah when interacting with the Sundanese group so that it seems forced. The over-accommodation made by the Sundanese is to greet the Chinese with a greeting according to their ethnicity but not according to the age context, so it seems impolite.
Konstruksi Realitas Sosial-Budaya Etnis Tionghoa di Palembang: Studi Komunikasi Antar-Budaya Aprilyanti Pratiwi
CoverAge: Journal of Strategic Communication Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.44 KB)

Abstract

As one of the ethnic groups in Indonesia, Chinese Indonesians groups often face discrimination from other ethnic groups in Indonesia. How Chinese ethnic groups in Palembang construct socio-cultural reality according to their own views? How do they manage their communications with the impression of local residents? The answer to these questions can be found through this qualitative study of Intercultural Communication by conducting interviews observations of the two informants, and data analysis of the articles of Kampung Kapitan. The results showed that the Chinese community of Kampung Kapitan assumed their villages is an ancestral heritage that must be protected not only their building but also their cultures too. The Chinese ethnic of Kampung Kapitan assumed that they are wong Plembang (Palembang people). The frequency of communications of Chinese ethnic community of Kampung Kapitan with surrounding communities where they live is very high. The process of acculturation and modernization of the Chinese ethnic of Kampung Kapitan are on marriage, religion, and values. Verbally, Chinese ethnic of Kampung Kapitan in general use Palembang language, non-verbally that the appearance and clothing as well as movement and posture are the same as that of Palembang ethnic communities. The obvious between Chinese ethnic groups of Kampung Kapitan people and Palembang people are paler skin and slit eyes.
INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF DALAM KONFLIK AGRARIA (STUDI KASUS PADA AKUN INSTAGRAM @FORUMPANCORANBERSATU) Julio Eliezer Mamahit; Aprilyanti Pratiwi
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 5, No 2 (2022): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v5i2.4382

Abstract

Sebagian media mainstream sekarang hanya mencari berita yang memiliki nilai jual saja. Berita-berita tentang masyarakat marjinal lainnya sangat jarang menjadi topik utama. Gejala ini mengakibatkan perubahan dalam melakukan perlawanan, masyarakat kini memilih media sosial sebagai kanal untuk menyampaikan aspirasi dan informasi mengenai permasalahan mereka yang tidak tersentuh oleh media mainstream. Media sosial Instagram menjadi pilihan Warga Pancoran Gang Buntu II untuk melakukan perlawanan demi mempertahankan ruang hidup mereka yang sudah direnggut oleh perusahaan negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis media sosial Instagram menjadi media altenatif bagi Warga Pancoran Gang Buntu II, dalam menyuarakan ketertindasan mereka. Penelitian ini menggunakan metode analisis media siber dengan melihat ruang media, dokumen media, objek media, dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa media sosial Instagram dapat menjadi media alternatif bagi aksi perlawanan masyarakat yang dimarjinalkan oleh para penguasa media. Hal tersebut dapat ditemukan pada respon dari para pengguna Instagram yang mengikuti dan bahkan tidak mengikuti akun Instagram @forumpancoranbersatu. Media sosial Instagram dimanfaatkan untuk mengunggah konten berupa foto dan video agar dapat menggerakkan para pengikut dan bukan pengikut akun @forumpancoranbersatu agar perduli dan ikut aksi mereka. Diharapkan bagi konflik-konflik agraria lainnya dapat menggunakan media sosial Instagram sebagai media alternatif untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, karena media sosial Instagram memiliki khalayak yang cukup luas
Analysis of Communication Patterns Between Chinese and Sundanese Ethnic in Suryakencana, Bogor Nathalia Perdhani Soemantri; Muthia Karina; Aprilyanti Pratiwi; Rosmalia Ahmad
CoverAge: Journal of Strategic Communication Vol 14 No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/coverage.v14i1.5468

Abstract

Chinese ethnic live for generation across Indonesia and have adapt with Indonesian culture. in Bogor City, West Java. In general, Chinese ethnic descent who live in Bogor, West Java, specifically in Central Bogor sub-district live in Warehouse and Pasar Babakan sub-districts which include the Suryakencana area, with a percentage of 27%, live side to side with Sundanese ethnicity. The purpose of this study was to determine communication patterns between ethnic groups of Chinese and Sundanese descent on Jalan Suryakencana Bogor. This study combines two main concepts: cross-cultural communication and communication patterns. This study is using interpretif paradigm with a qualitative descriptive approach. Data collection uses three methods: in-depth interviews, and non-participatory observation. The study findings reveal that cross-cultural communication emerges through tolerance, especially in terms of respect, openness, association, and acculturation. The ethnic identity of Chinese descent is reflected in architectural features decorated with traditional Chinese elements, wedding practices, and Chinese vocabulary in daily conversation. Interpersonal communication patterns emerge in trading contexts, while group communication patterns emerge during social activities.
Analisis Framing Pemberitaan Isu Ijazah Palsu Joko Widodo pada Media Daring CNN Indonesia dan Liputan6.com Sudarto; Aprilyanti Pratiwi; Muklis Efendi
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/r0aqj566

Abstract

Tuduhan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjadi salah satu isu politik yang paling diperdebatkan di ruang publik digital Indonesia sepanjang 2025 dan memunculkan pertanyaan tentang bagaimana media daring arus utama mengonstruksi realitas politik pada isu sensitif yang menyangkut legitimasi negara. Berlandaskan perspektif konstruksi sosial atas realitas dan teori framing, penelitian ini bertujuan membandingkan cara CNN Indonesia dan Liputan6.com membingkai isu tersebut dengan menggunakan model analisis framing Pan dan Kosicki yang menelaah teks berita melalui empat struktur, yaitu sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis analisis isi kualitatif berbasis framing terhadap enam teks berita yang terbit pada April hingga Agustus 2025, masing-masing tiga berita dari setiap media, dibantu proses koding dan kategorisasi menggunakan perangkat lunak HyperResearch. Hasil penelitian menunjukkan CNN Indonesia membangun bingkai institusional-prosedural yang menonjolkan verifikasi forensik, proses hukum yang sah, dan profesionalisme kepolisian, sedangkan Liputan6.com membangun bingkai konklusif-afirmatif yang memosisikan Jokowi sebagai korban fitnah yang ijazahnya telah terbukti asli secara hukum. Meskipun strategi diskursifnya berbeda, kedua media sama-sama menolak narasi ijazah palsu dan menyelaraskan pemberitaan dengan legitimasi negara serta stabilitas politik. Penelitian menyimpulkan bahwa perbedaan framing antarmedia arus utama bekerja pada level strategi wacana, bukan oposisi ideologis, dan temuan ini berkontribusi pada penguatan literasi media digital masyarakat.
Antara Negosiasi dan Kritik: Analisis Resepsi Penonton mengenai Hegemoni Maskulinitas dalam Film “Deadpool & Wolverine” Farah Nabila Ardani; Aprilyanti Pratiwi
CARAKA : Indonesia Journal of Communication Vol. 7 No. 1 (2026): CARAKA : Indonesia Journal of Communication
Publisher : Indonesian Scientific Journal (Jurnal Ilmiah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/caraka.v7i1.298

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi penonton terhadap nilai-nilai patriarki dan hegemoni maskulinitas dalam film “Deadpool & Wolverine” (2024). Kerangka teoritis yang digunakan adalah teori encoding-decoding Stuart Hall. Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data yang dikumpulkan melalui analisis dokumenter, mengkaji pernyataan resmi dari para pembuat film mengenai makna yang dimaksudkan dari film tersebut, dan wawancara mendalam dengan lima mahasiswa sebagai penonton film. Data dianalisis melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk mengidentifikasi posisi interpretatif penonton terkait representasi maskulinitas dalam film. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semua informan menempati posisi membaca yang dinegosiasikan sebagai sikap decoding dominan mereka. Mereka mengapresiasi upaya film tersebut untuk menggambarkan bentuk maskulinitas yang lebih ekspresif dan rentan secara emosional, sekaligus mempertanyakan reproduksi struktur patriarki yang tertanam dalam narasi yang didominasi laki-laki. Tidak ada informan yang menunjukkan pembacaan hegemonik-dominan murni atau pembacaan oposisi yang konsisten; penerimaan dan penolakan bersifat selektif dan individual. Gender dan modal budaya muncul sebagai variabel kunci yang membentuk kerangka interpretatif: informan perempuan lebih konsisten mengidentifikasi ketidaksetaraan gender struktural, sedangkan informan laki-laki lebih fokus pada dinamika internal maskulinitas. Temuan ini mengkonfirmasi argumen Hall bahwa decoding relatif otonom dari encoding, dan menunjukkan bahwa ambiguitas ideologis film superhero menciptakan ruang yang produktif untuk negosiasi makna penonton. Penelitian ini berkontribusi pada studi penerimaan audiens dalam konteks budaya populer Indonesia dan memberikan implikasi praktis bagi representasi gender yang lebih berimbang dalam sinema superhero.