p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MAXIMAL
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konflik Islam, Adat, dan Modernitas dalam Budaya Minangkabau di Era Digital Frizti Mayendi; Yusfita Sari; Ahmad Rafiky; Fathoni Hidayatulloh; Hoktaviandri Hoktaviandri
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 5 (2026): Juni
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) mencerminkan identitas budaya yang kuat dari masyarakat Minangkabau, yang berasal dari perpaduan antara Islam dengan ritual-ritual kuno. Namun, kehidupan masyarakat Minangkabau telah dipengaruhi oleh sejumlah perubahan sosial yang ditimbulkan oleh kemunculan modernitas dan era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji ketegangan yang muncul antara Islam, adat, dan modernitas dalam budaya Minangkabau serta mengidentifikasi upaya masyarakat dalam melestarikan identitas budayanya di tengah perubahan tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian pustaka dan metodologi kualitatif. Informasi mengenai budaya Minangkabau, Islam, adat, dan modernitas dikumpulkan dari berbagai buku, artikel jurnal, dan sumber akademis. Melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, data dianalisis menggunakan metodologi deskriptif-kualitatif. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya konflik antara Islam, adat, dan modernitas dalam sejumlah aspek kehidupan masyarakat, termasuk penggunaan media digital, sistem kekerabatan, perkawinan, peran mamak, gaya hidup generasi muda, serta adat istiadat. Di satu sisi, modernitas dapat mengikis signifikansi lembaga-lembaga adat dan menggantikan nilai-nilai tradisional. Namun, era digital juga menciptakan peluang baru bagi budaya Minangkabau untuk dilestarikan dan diperkenalkan secara lebih luas. Oleh karena itu, agar Islam, adat istiadat tradisional, dan modernitas dapat hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat Minangkabau modern, diperlukan upaya integratif melalui penguatan prinsip-prinsip ABS-SBK.
Pernikahan Sesuku dan Identitas Budaya Minangkabau di Era Globalisasi Yusfita Sari; Frizti Mayendi; Hoktaviandri Hoktaviandri
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 4 (2026): April
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam masyarakat Minangkabau, adat istiadat yang didasarkan pada sistem kekerabatan matrilineal melarang pernikahan sesuku. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis signifikansi larangan pernikahan sesuku dalam identitas budaya Minangkabau di tengah konteks globalisasi. Konsep pernikahan dalam tradisi Minangkabau, landasan filosofis larangan pernikahan sesuku, serta dampak dan perubahan opini publik terkait hukum ini merupakan beberapa topik yang diteliti. Pendekatan yang digunakan adalah tinjauan pustaka (penelitian perpustakaan), yang mencakup pemeriksaan berbagai bahan literer yang berkaitan dengan adat, kekerabatan, dan transformasi sosial dalam masyarakat Minangkabau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larangan menikah dengan suku yang sama memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial, memperluas jaringan kekerabatan, dan mempertahankan garis keturunan yang berbeda. Namun, di era globalisasi, nilai-nilai kontemporer seperti kebebasan individu dan akal sehat mulai membentuk cara pandang masyarakat, terutama generasi muda, terhadap norma-norma tradisional tersebut. Akibatnya, terjadi benturan antara keinginan individu dan prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh masyarakat secara keseluruhan. Namun, adat Minangkabau tetap bertahan dengan cara bernegosiasi dan beradaptasi dengan masa kini. Oleh karena itu, larangan menikah dengan suku yang sama masih penting sebagai komponen identitas budaya, tetapi memerlukan pendekatan yang lebih kontekstual untuk memastikan bahwa larangan tersebut masih relevan mengingat dinamika masyarakat kontemporer.