Rendahnya tingkat literasi keuangan dan ketimpangan akses terhadap layanan keuangan digital masih menjadi permasalahan nyata bagi sebagian besar warga Kota Samarinda. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 65,43 persen, namun adopsi layanan digital belum merata, khususnya di wilayah Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan merancang, membangun, dan mengevaluasi prototipe agen finansial berbasis kecerdasan buatan yang beroperasi melalui platform WhatsApp sebagai media pengelolaan keuangan pribadi secara mandiri dan berkesinambungan. Metodologi pengembangan memadukan tiga komponen utama: platform otomasi alur kerja n8n sebagai mesin orkestrator, model bahasa besar OpenAI GPT-5o-mini sebagai prompt engine untuk inferensi dan pemahaman bahasa alami, serta layanan API gateway Fonnte sebagai antarmuka pesan instan WhatsApp. Pendekatan prompt engine dipilih agar sistem mampu mengenali transaksi dalam ragam bahasa percakapan sehari-hari—termasuk singkatan dan istilah lokal—tanpa mengharuskan pengguna mengikuti format perintah yang kaku. Pengujian fungsional dilakukan terhadap dua puluh satu skenario yang mencakup tiga dimensi: pencatatan transaksi harian, sinkronisasi data otomatis ke Google Sheets, dan pemberian rekomendasi keuangan yang dipersonalisasi. Seluruh dua belas skenario berhasil dijalankan dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Sistem terbukti mampu mengekstraksi entitas keuangan secara presisi, mempertahankan kesinambungan konteks percakapan antarsesi, dan menyajikan rekomendasi alokasi anggaran otomatis berbasis prinsip 50/20/30. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan prompt engine dalam platform pesan instan yang sudah digunakan luas terbukti efektif menekan hambatan adopsi teknologi keuangan digital, sekaligus berpotensi menjadi model solusi inklusi keuangan bagi daerah dengan karakteristik sosiokultural serupa.