Latar belakang: Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan, teknologi, komunikasi, dan pekerjaan. Di Indonesia, bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib yang diajarkan sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah kemampuan berbicara (speaking skills). Fenomena yang sering terjadi di dalam kelas adalah siswa cenderung pasif, enggan merespons instruksi lisan dari guru, dan lebih memilih diam ketika diminta untuk mengemukakan pendapat. Rendahnya motivasi ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kecerdasan akademis, melainkan sering kali berakar pada faktor psikologis dan hambatan linguistik. Jika dibiarkan, rendahnya motivasi berbicara ini akan berdampak pada penurunan rasa percaya diri siswa secara berkelanjutan dan menghambat mereka dalam menghadapi tuntutan akademis maupun profesional di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya motivasi berbicara bahasa inggris tingkat pemula pada siswa sekolah menengah atas di SMA YAPIM Taruna Sei Rotan Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi berbicara bahasa Inggris pada siswa tingkat pemula melalui observasi, wawancara dan angket yang diberikan ke siswa. Hasil Berdasarkan analisis data dari observasi dan wawancara, faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi berbicara bahasa Inggris pada siswa tingkat pemula dikelompokkan menjadi dua dimensi utama yakni dimensi personal dan kebahasaan serta dimensi lingkungan dan instruksional Kesimpulan Rendahnya motivasi siswa tidak disebabkan oleh kurangnya minat umum terhadap bahasa inggris , melainkan di picu oleh tingkat kecemasan berbicara (speaking anxiety) yang tinggi. Ketakutan akan penilaian negatif, rasa malu saat melakukan kesalahan tata bahasa (grammar), serta minimnya rasa percaya diri menjadi penghambat mental utama (affective filter) yang mengunci kemampuan produktif siswa.