Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MOTIVASI BERBICARA BAHASA INGGRIS TINGKAT PEMULA PADA SISWA SMA YAPIM TARUNA SEI ROTAN Antonius Wilson Sembiring; Arman Bemby Sinaga; Andreas Lubis; Lurdes Paulina
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 8 No. 1 (2026): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/tekesnos.v8i1.6342

Abstract

Latar belakang: Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan, teknologi, komunikasi, dan pekerjaan. Di Indonesia, bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib yang diajarkan sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah kemampuan berbicara (speaking skills). Fenomena yang sering terjadi di dalam kelas adalah siswa cenderung pasif, enggan merespons instruksi lisan dari guru, dan lebih memilih diam ketika diminta untuk mengemukakan pendapat. Rendahnya motivasi ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kecerdasan akademis, melainkan sering kali berakar pada faktor psikologis dan hambatan linguistik. Jika dibiarkan, rendahnya motivasi berbicara ini akan berdampak pada penurunan rasa percaya diri siswa secara berkelanjutan dan menghambat mereka dalam menghadapi tuntutan akademis maupun profesional di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya motivasi berbicara bahasa inggris tingkat pemula pada siswa sekolah menengah atas di SMA YAPIM Taruna Sei Rotan Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi berbicara bahasa Inggris pada siswa tingkat pemula melalui observasi, wawancara dan angket yang diberikan ke siswa. Hasil Berdasarkan analisis data dari observasi dan wawancara, faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi berbicara bahasa Inggris pada siswa tingkat pemula dikelompokkan menjadi dua dimensi utama yakni dimensi personal dan kebahasaan serta dimensi lingkungan dan instruksional Kesimpulan Rendahnya motivasi siswa tidak disebabkan oleh kurangnya minat umum terhadap bahasa inggris , melainkan di picu oleh tingkat kecemasan berbicara (speaking anxiety) yang tinggi. Ketakutan akan penilaian negatif, rasa malu saat melakukan kesalahan tata bahasa (grammar), serta minimnya rasa percaya diri menjadi penghambat mental utama (affective filter) yang mengunci kemampuan produktif siswa.
PELATIHAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INGGRIS TINGKAT PEMULA PADA SISWA SMK YAPIM TARUNA SEI ROTAN Antonius Wilson Sembiring; Arman Bemby Sinaga; Maria Friska. N; Nurhidayah; Andreas Lubis; Dela Cintya
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 7 No. 2 (2026): JURNAL ABDIMAS MUTIARA (IN PRESS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jam.v7i2.6446

Abstract

Latar Belakang: Penguasaan bahasa Inggris merupakan salah satu keterampilan krusial bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menghadapi tuntutan dunia kerja dan era globalisasi. Namun, mitra pengabdian, yaitu siswa SMK YAPIM Taruna Sei Rotan , masih menghadapi kendala besar dalam aspek berbicara (speaking), khususnya pada tingkat pemula (beginner level). Kurangnya rasa percaya diri, keterbatasan kosakata, dan minimnya praktik aktif menjadi faktor utama rendahnya kemampuan berbicara mereka. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris tingkat pemula serta menumbuhkan rasa percaya diri siswa SMK YAPIM Taruna Sei Rotan dalam berkomunikasi. Metode: Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah bentuk pelatihan interaktif dengan pendekatan Communicative Language Teaching (CLT). Tahapan pelaksanaan meliputi: (1) Pre-test untuk mengukur kemampuan awal, (2) Pemaparan materi dasar komunikasi sehari-hari, (3) Praktik langsung melalui metode role-play (bermain peran) dan games kelompok, serta (4) Post-test dan evaluasi keberhasilan program. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan berbicara siswa. Berdasarkan hasil evaluasi, siswa mengalami peningkatan kosakata operasional dan lebih berani mengekspresikan diri dalam bahasa Inggris tanpa takut salah. Tingkat kepercayaan diri siswa meningkat dari kategori "kurang" menjadi "baik". Kesimpulan: Pelatihan ini efektif dalam mendongkrak kemampuan dan motivasi berbicara bahasa Inggris tingkat pemula pada siswa SMK YAPIM Taruna Sei Rotan . Kegiatan serupa disarankan untuk dilakukan secara berkelanjutan dengan materi yang lebih spesifik sesuai dengan kompetensi keahlian jurusan siswa.