Zahra Aulia Mumtaz
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MINAT POLITIK GENERASI MUDA DAN POLARISASI KONFLIK DIGITAL DI PROVINSI BANTEN: ANALISIS KUALITATIF BERBASIS SOCIAL NETWORK ANALYSIS Lukman Hakim; Delila Putri Sadayi; Zahra Aulia Mumtaz; Andi Iksan
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.2097

Abstract

Perubahan ruang digital telah membentuk pola baru sosialisasi politik generasi muda, termasuk di Provinsi Banten. Tingginya akses internet pemuda membuka peluang perluasan minat politik, tetapi pada saat yang sama menghadirkan risiko polarisasi, disinformasi, ujaran kebencian, dan konflik simbolik. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi antara minat politik generasi muda dan polarisasi konflik digital di Provinsi Banten melalui perspektif kualitatif berbasis Social Network Analysis (SNA). Metode penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan SNA interpretatif. Data diperoleh dari literatur akademik, dokumen resmi, dan sumber kelembagaan yang relevan, kemudian dianalisis melalui identifikasi node, klasifikasi relasi, penyusunan matriks jejaring, visualisasi sociogram konseptual, dan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat politik generasi muda dibentuk oleh jejaring akses informasi digital, media sosial, institusi kepemiluan, keluarga, sekolah/kampus, komunitas, dan aktor politik. Namun, jejaring yang sama dapat berubah menjadi arena polarisasi ketika dipengaruhi selective exposure, algoritma platform, echo chamber, kontestasi identitas, dan rendahnya literasi digital politik. Penelitian ini menegaskan bahwa ruang digital di Banten perlu dibaca sebagai arena partisipasi politik sekaligus ruang reproduksi konflik digital. Penguatan literasi digital politik, pendidikan pemilih berkelanjutan, serta kolaborasi antara lembaga pemilu, institusi pendidikan, komunitas, dan platform digital menjadi prasyarat penting untuk menjaga kualitas demokrasi lokal.