Dadan Suherdiana
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Civil Servants in Strengthening Religious Moderation for the Sustainability of Islamic Da‘wah in the Modern Era: A Case Study at the Bandung Religious Training Center Ega Diah Pridayanti; Haidar Ainurrahman; Dadan Suherdiana
JENTRE Vol. 7 No. 1 (2026): JENTRE: Journal of Education, Administration, Training and Religion
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38075/jen.v7i1.569

Abstract

This study examines the role of the State Civil Apparatus (Aparatur Sipil Negara / ASN) in strengthening religious moderation to support the sustainability of Islamic da’wah in the modern era, with a case study at the Bandung Religious Training Center (Balai Diklat Keagamaan / BDK Bandung). It is motivated by contemporary challenges to Islamic da’wah, including the proliferation of extremist narratives in digital spaces, generational shifts, and the complexities of Indonesia’s pluralistic and multicultural society. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with widyaiswara at BDK Bandung, as well as analysis of training practices and the implementation of moderation values by ASN, particularly religious counselors. The findings indicate that ASN plays a strategic dual role as both public service agents and da’wah actors in disseminating key values of religious moderation, namely national commitment, tolerance, non-violence, and respect for local wisdom. Training in religious moderation significantly shapes the mindset, attitudes, and professional practices of ASN, enabling them to deliver Islamic da’wah in a more moderate, adaptive, and context-sensitive manner. This study concludes that strengthening religious moderation through ASN extends beyond policy implementation and constitutes a critical foundation for fostering inclusive, relevant, and sustainable Islamic da’wah in the context of rapid social and technological change.
The Role of Civil Servants in Strengthening Religious Moderation for the Sustainability of Islamic Da‘wah in the Modern Era: A Case Study at the Bandung Religious Training Center Ega Diah Pridayanti; Haidar Ainurrahman; Dadan Suherdiana
JENTRE Vol. 7 No. 1 (2026): JENTRE: Journal of Education, Administration, Training and Religion
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38075/jen.v7i1.569

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam memperkuat moderasi beragama sebagai upaya menjaga keberlanjutan dakwah Islam di era modern, dengan studi kasus di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung. Latar belakang penelitian ini berangkat dari berbagai tantangan kontemporer dakwah Islam, seperti maraknya narasi keagamaan ekstrem di ruang digital, dinamika perubahan generasi, serta kompleksitas masyarakat Indonesia yang bersifat plural dan multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan widyaiswara BDK Bandung serta analisis terhadap praktik pelatihan dan implementasi nilai-nilai moderasi beragama oleh ASN, khususnya penyuluh agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASN memiliki peran strategis sebagai agen pelayanan publik sekaligus aktor dakwah dalam menginternalisasi dan menyebarluaskan nilai-nilai utama moderasi beragama, meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Pelatihan moderasi beragama terbukti berkontribusi signifikan dalam membentuk pola pikir, sikap, dan praktik profesional ASN, sehingga dakwah Islam dapat disampaikan secara lebih moderat, adaptif, dan kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan moderasi beragama melalui ASN tidak hanya berfungsi sebagai implementasi kebijakan negara, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan dakwah Islam yang inklusif, relevan, dan berkelanjutan di tengah percepatan perubahan sosial dan teknologi.