Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrated Online Dispute Resolution in Disputes Over National Health Insurance Claims: The Perspectives of the Rule of Law and The State of Power Dessy Puspita Tjahjadi; Sri Redjeki Slamet; Ade Hari Siswanto
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 6 (2026): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/edunity.v5i6.524

Abstract

The National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional/JKN) program guarantees the right to healthcare; yet, claims disputes between hospitals and Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Health expose persistent imbalances in their resolution. Despite normative pathways encompassing deliberation, mediation, and litigation, objections to claim verification are resolved internally by BPJS Health, while judicial recourse is rarely pursued even in the presence of substantial pending claims. This study analyses existing dispute resolution mechanisms through rechtsstaat and machtsstaat perspectives and formulates an integrated Online Dispute Resolution (ODR) model to ensure party equality and protect participants' rights. Employing a normative juridical method with statutory, case, conceptual, and comparative approaches alongside empirical searches of the Supreme Court Decision Directory the study draws on rule of law theory and Nonet and Selznick's responsive law theory. The findings indicate that the current mechanism falls short of substantive rechtsstaat standards and reflects machtsstaat residues, as the principle of nemo judex in causa sua is not fully upheld. The proposed integrated ODR model consolidates negotiation, mediation, clinical panel review, and arbitration into a single independent digital platform. Rather than creating new institutional authority, the model unifies mechanisms already recognized under Indonesian law into a more transparent, equitable, and accountable process, thereby restoring party parity and protecting participants' constitutional rights as a realization of substantive rechtsstaat.
Penguatan Kedaulatan Indonesia Melalui Politik Bebas Aktif dan Perjanjian Internasional dalam Perspektif Rechtsstaat dan Machtsstaat: Penelitian Hilda Aulia Syah; Sri Redjeki Slamet; Ade Hari Siswanto
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7426

Abstract

Sejak kemerdekaan, Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif untuk menjaga perdamaian dunia tanpa subordinasi pada kekuatan hegemonik. Namun, keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP) menimbulkan persoalan terkait kesesuaian dengan prinsip kedaulatan negara dan konsep Rechtsstaat serta Machtsstaat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi politik luar negeri bebas aktif Indonesia dalam BoP, dan menganalisis struktur BoP dengan hak veto absolut ditinjau dari perspektif Rechtsstaat dan Machtsstaat. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, serta bahan hukum primer berupa UUD 1945, UU No. 24 Tahun 2000, dan Piagam BoP. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan deskriptif-analitis dan preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BoP mencerminkan unsur aktif politik luar negeri melalui partisipasi dalam rekonstruksi pascakonflik Gaza. Namun, unsur bebas tidak sepenuhnya terpenuhi karena struktur BoP memberikan hak veto absolut kepada ketua, sehingga berpotensi mengurangi kesetaraan dan independensi negara anggota. Struktur BoP lebih mencerminkan karakteristik Machtsstaat dibanding Rechtsstaat karena adanya pemusatan kewenangan, lemahnya akuntabilitas, serta belum optimalnya penerapan prinsip sovereign equality of states. Dalam kerangka politik bebas aktif, keterlibatan Indonesia di BoP hanya dapat memperkuat posisi kedaulatan apabila prinsip kesetaraan, independensi diplomasi, dan akuntabilitas organisasi dijunjung tinggi.