Nadilah Sobrina Zakiroh
Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Studi Penggunaan Profilaksis Stress Ulcer pada Pasien Bedah Digestif (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya) Nadilah Sobrina Zakiroh; Budi Suprapti; Indira Dhany Kharismawati M.; Ismu Nugroho; M. A. Milawati Baay
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 13 No. 1 (2026): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v13i1.90962

Abstract

Pasien bedah digestif umumnya rentan mengalami stress ulcer. Pemantauan penggunaan profilaksis stress ulcer sangat penting karena pemberian yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko perdarahan berat dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis obat, dosis, frekuensi, dan durasi terapi profilaksis stress ulcer pada pasien bedah digestif. Penelitian ini merupakan studi observasional menggunakan data retrospektif. Sampel penelitian semua rekam medik pasienĀ  yang menjalani bedah digestif dengan diagnosis kolelitiasis, apendisitis, kanker kolorektal, hernia, atau hemoroid pada periode Oktober 2024 hingga Maret 2025 di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Hasil penelitian dari 81 pasien bedah digestif menunjukkan bahwa agen profilaksis stress ulcer yang digunakan meliputi penghambat pompa proton (PPI) yaitu omeprazol, pantoprazol, dan lansoprazol; antagonis reseptor H2 (ranitidin); serta sukralfat. Regimen yang paling sering digunakan adalah omeprazol 2 x 40 mg intravena. Durasi penggunaan profilaksis stress ulcer yang 1-10 hari. Terapi diberikan baik sebagai monoterapi maupun kombinasi. Monoterapi PPI merupakan regimen yang paling banyak digunakan, sedangkan kombinasi yang paling sering dijumpai adalah PPI dengan sukralfat. Sebagian besar pasien melanjutkan regimen awal tanpa perubahan, meskipun pada beberapa kasus terjadi peralihan rute pemberian dari intravena ke oral seiring dengan perbaikan kondisi klinis pasien. Ditemukan ketidaksesuaian dosis dengan yang rekomendasikan pada penggunaan PPI dan sukralfat, yaitu lebih besar dari dosis rekomendasi.