Sri Handayani
Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Electric Cupping Therapy for Stress Reduction in Patients with Hypertension: A Quasi-Experimental Study Sri Handayani; Wijayanti Wijayanti; Pandu Aseta
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 11 No. 1 (2026): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmik.v11i1.1051

Abstract

Background: Hypertension is a major public health problem that is frequently associated with psychological stress, which may adversely affect overall well-being and disease management. Complementary interventions that support stress reduction may therefore contribute to more holistic hypertension care. This study aimed to evaluate the effect of controlled electric cupping therapy on perceived stress among patients with hypertension. Method: A quasi-experimental study employing a one-group pre–posttest design was conducted among 39 patients with primary hypertension at Rumah Bekam Salim Karanganyar. Participants received a single session of electric cupping therapy using a standardized pressure setting of 250 mmHg. Perceived stress was assessed using the Perceived Acute Stress Scale-10 (PASS-10). Data normality was evaluated using the Shapiro–Wilk test, and pre–post differences were analyzed using a paired-samples t-test. Result: The mean PASS-10 score decreased from 23.69 ± 6.02 before the intervention to 12.74 ± 4.49 after the intervention. Statistical analysis demonstrated a significant reduction in perceived stress following electric cupping therapy (t(38) = 28.69, p < 0.001), with a very large effect size (Cohen’s d = 4.59). Conclusion: The findings suggest that controlled electric cupping therapy may have potential as a complementary approach for reducing perceived stress among patients with hypertension. However, because the study employed a one-group pre–posttest design without a control group, the results should be interpreted as preliminary. Further randomized controlled studies are needed to confirm these findings and determine the intervention’s effectiveness.
Optimalisasi Program Posyantren (Posyandu Pesantren) Lansia untuk Mewujudkan Lansia Sehat dan Bertaqwa Sri Handayani; Anik Enikmawati
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 4 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i4.588

Abstract

Populasi lanjut usia saat ini semakin meningkat. Oleh karena itu, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan lanjut usia yang ditujukan untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok lanjut usia ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan di tingkat masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia. Berdasarkan data dari wawancara dengan ketua Posyandu Lansia RW 09 Tanjung, diketahui bahwa pengelolaan posyandu masih seadanya karena keterbatasan tenaga dan fasilitas. Selain itu, banyak lansia yang kurang sadar akan kesehatan dan masih berorientasi pada kehidupan dunia. Keterbatasan pengelola juga menjadi faktor, karena pengurus hanya terdiri dari tiga orang tanpa adanya kader yang memadai. Partisipasi lansia juga rendah, dengan hanya 20-25 lansia yang aktif dari total 107 lansia terdaftar pada Februari 2024. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memberikan pelatihan manajemen posyandu lansia dan membentuk program pesantren lansia dengan kurikulum yang terstruktur. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah studi pendahuluan, koordinasi dengan mitra, dan pelaksanaan pelatihan. Setelah pelatihan, pengetahuan tentang manajemen posyandu lansia meningkat secara signifikan. Sebelum pelatihan, 80% peserta memiliki pengetahuan yang kurang, namun setelah pelatihan, 80% peserta memiliki pengetahuan yang baik. Diharapkan, program ini dapat membantu mewujudkan lansia yang sehat secara fisik dan mental serta lebih bertaqwa.