Latar Belakang: Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kemenkes RI menunjukkan prevalensi karies gigi mencapai 82,8%, yang disebabkan oleh pembentukan plak gigi. Plak gigi diawali oleh bakteri primer seperti Streptococcus sanguinis membentuk biofilm matang melalui koagregasi dengan bakteri kariogenik seperti Streptococcus mutans. Kontrol plak menggunakan obat kumur klorheksidin 0,2% dapat menimbulkan efek samping. Keanekaragaman hayati di Indonesia berpotensi sebagai alternatif kontrol plak berbahan herbal, seperti ekstrak daun kersen (Muntingia calabura). Tujuan: Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus sanguinis. Metode: Penelitian laboratoris in vitro dengan post-test only control group design. Besar sampel sebanyak 28 sampel, terdiri dari K+ (klorheksidin glukonat 0,2%), K- (akuades), serta kelompok perlakuan yaitu ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) P1 (6,25%), P2 (12,5%), P3 (25%), P4 (50%), dan P5 (100%). Uji daya hambat dengan metode dilusi agar berdasarkan pengamatan visual tumbuh atau tidak tumbuh bakteri Streptococcus sanguinis. Data dianalisis menggunakan uji Cramer's V dan Fisher’s Exact. Hasil: Ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) P3 (25%), P4 (50%), dan P5 (100%) tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri serupa dengan hasil K+ dan berbeda signifikan dengan K-, dengan nilai KHM pada konsentrasi 25%. Kesimpulan: Terdapat efektivitas antibakteri ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada konsentrasi 25%.