Penelitian ini menyoroti tentang bagaimana kesiapsiagaan bencana dikonstruksi lewat interaksi sosial melalui program mobil edukasi penanggulangan Bencana (Mosipena) BPBD Jawa Timur, Indonesia. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana pembentukan budaya sadar bencana dalam lingkungan pendidikan bagi kelompok siswa SMKN 1 Lamongan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian fenomenologi, menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger meliputi tahap eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi untuk memahami bagaimana interaksi sosial membentuk realitas sosial. Pengumpulan data primer meliputi observasi langsung, wawancara dan dokumentasi. Observasi langsung program Mosipena ke SMKN 1 Lamongan, Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin, dan wawancara meliputi staff terlibat sebagai fasilitator program Mosipena di BPBD Jawa Timur dan dua siswi SMKN 1 Lamongan. Data sekunder dikumpulkan dari jurnal, buku, dan situs web resmi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa konstruksi terjadi melalui tiga tahapan yaitu eksternalisasi melalui upaya BPBD Provinsi Jawa Timur dalam jemput bola untuk menjangkau sekolah dengan kolaborasi antar instansi agar edukasi bencana menjadi kebijakan pendidikan, objektivasi di mana sosialisasi kesiapsiagaan bencana dengan penggunaan alat pertolongan pertama gawat darurat, Apar (Alat Pemadam Api Ringan) dan simulasi evakuasi menjadi realitas objektif yang dipahami kelompok rentan, namun perlu ditambahkan edukasi dalam kurikulum tetap, tahap internalisasi di mana siswa menyerap nilai-nilai kesiapan melalui sosialisasi langsung dan simulasi dengan pemahaman diukur lewat umpan balik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana yang efektif membutuhkan sinergi kelembagaan antara lembaga penanggulangan bencana dan kementerian pendidikan untuk memastikan keberlanjutan melalui integrasi kurikulum, karena satu kali sosialisasi tidak cukup untuk perubahan perilaku kesiapsiagaan menghadapi bencana secara kontinu.