Zulfa Awaliyah Darajat
Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Inklusi di Sekolah: Studi Kasus di Sekolah Menengah Pertama Zulfa Awaliyah Darajat; Kambali; Suklani
Counselia Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/counselia.v6i2.299

Abstract

Pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan belajar dari semua anak, remaja, dan orang dewasa yang diintegrasikan dengan kebutuhan khusus (seperti disabilitas fisik, intelektual, atau emosional) ke dalam kelas reguler. Tujuan pendidikan inklusi yaitu untuk memberikan hak sama dalam belajar atau mengenyam pendidikan bagi semua orang dalam lingkungan yang sama. Pendidikan inklusi di sekolah akan berjalan dengan baik jika semua steakholder di dalamnya dapat bekerja sama. Penelitian ini bertuujuan untuk mengetahui peran kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun budaya inklusi di sekolah, strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam membangun budaya inklusi, dan tantangan yang dihadapi kepala sekolah dalam membangun budaya inklusi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Peran kepala sekolah dalam pengembangan budaya inklusi di sekokah tersebut yaitu dengan menunjukan gaya kepemimpinan yang demokratis, dimana kepemimpinan ini memberikan ruang kepada guru dan staf dalam mengambil keputusan. Selain itu kepala sekolah membuat beberapa strategi diantaranya kajian kitab, workshop, desiminasi, pengembangan siswa melalui kegiatan ekstrakulikuler. Namun, terdapat juga tantangan dalam mengembangkan budaya inklusi diantaranya: masih banyak guru yang belum mampu dalam membaca kitab kuning, terkendala biaya, kekurangan atau sempitnya waktu, dan siswa yang masih enggan dalam mengikuti kegiatan pengembangan diri melalui ekstrakulikuler.