Aang Burhanuddin
Universitas Islam Syarifuddin Lumajang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Kyai Sebagai Polimorfik: Studi Kasus Metode Konseling Islam pada Masyarakat di Desa Kudus Iqbal Abdul Aziz; Aang Burhanuddin
Counselia Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/counselia.v7i1.646

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran kiai sebagai figur polimorfik dalam praktik konseling Islam di masyarakat Desa Kudus, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi strategis kiai sebagai otoritas keagamaan sentral yang tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga menjalankan berbagai peran sosial untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kiai melaksanakan konseling Islam dalam konteks nonformal dan situasional. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik interpretatif kualitatif yang didukung triangulasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kiai menjalankan peran polimorfik sebagai pembimbing spiritual, teladan moral, konselor, mediator, pendidik, dan penasihat sosial. Praktik konseling Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis serta disesuaikan dengan kondisi psikologis, sosial, dan spiritual masyarakat. Konseling dilaksanakan melalui beberapa tahapan, meliputi mendengarkan secara empatik, memahami masalah, memberikan nasihat keagamaan mau‘izhah hasanah, dialog, serta doa atau praktik spiritual. Praktik-praktik tersebut berkontribusi positif terhadap kesejahteraan mental, ketahanan spiritual, dan keharmonisan sosial, serta mendukung integrasi antara bimbingan spiritual dan kesehatan mental dalam wacana konseling Islam.
Development of a Creative Economy for Shallot Farmers to Enhance Household Income in Sumberkedawung, Probolinggo Muhammad Farid; Moch Mahsun; Indra Hidayatullah; Muhammad Masyhuri; Aang Burhanuddin; Siti Nur Latifah
Khidmatuna : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/khidmatuna.v6i1.3719

Abstract

Sumberkedawung village, particularly the hamlets of Sempol and Kedungminian, is an agrarian area where shallots constitute the primary commodity and serve as a major driver of the local economy. Despite this potential, the shallot sector has not fully translated into improved farmer welfare due to several persistent challenges, including unstable market prices, limited financial capital, the absence of subsidised fertilisers, insufficient technical assistance from farmer groups and agricultural agencies, and weak post-harvest creative management. This study and community engagement programme employed a Participatory Action Research (PAR) approach, comprising several stages: general mapping, thematic mapping, transect walks, Focus Group Discussions (FGDs), problem- and objective-tree analyses, and the formulation of community-approved action plans. The principal intervention involved organising a seminar entitled “Creative Economy Development for Shallot Farmers to Improve Community Income in Sumberkedawung Village”, involving farmers and leaders of local farmer groups. The programme successfully encouraged a shift in farmers’ mindsets from relying solely on selling raw produce toward embracing value-added processing and developing high-quality shallot seed enterprises. These initiatives opened new opportunities for more stable and sustainable income generation. By the conclusion of the programme, the community demonstrated enhanced understanding of agricultural management and the potential of creative economic strategies, and formulated recommendations for developing processed shallot-based products as a pathway to improving the socio-economic well-being of farming households.