Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Pesantren Culture in Bullying Prevention: A Systematic Review Nikmatul Khabibah; Suhadianto; Noviekayati
Immortalis Journal of Interdisciplinary Studies Vol. 2 No. 3 (2026): July - September
Publisher : PT. Caesarindo Triloka Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67307/ijis.v2i3.118

Abstract

Although Islamic boarding schools (pesantren) emphasize character education through moral values, religious practices, and exemplary role models, bullying continues to occur within these institutions. Existing studies have highlighted the potential of pesantren culture in fostering positive student behavior; however, empirical evidence regarding its effectiveness in preventing bullying remains fragmented and is largely dominated by qualitative research. This study aims to synthesize the available empirical evidence on the effectiveness of the pesantren cultural approach in preventing bullying among santri through a Systematic Literature Review (SLR). Following the PRISMA 2020 guidelines, literature published between 2015 and 2025 was systematically identified from Google Scholar and the Directory of Open Access Journals (DOAJ). Of the 200 records initially identified, 10 studies met the inclusion criteria after screening, quality appraisal using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist, and full-text review. The synthesis indicates that pesantren culture contributes to bullying prevention by strengthening empathy, moral awareness, emotional regulation, and a positive social climate through value internalization, exemplary leadership, mentoring systems, religious practices, and collaborative conflict resolution. However, current evidence is predominantly derived from qualitative studies using indirect indicators of bullying prevention, limiting robust conclusions regarding causal effectiveness. This review contributes to the literature by consolidating fragmented evidence on the role of pesantren culture in bullying prevention while highlighting the need for rigorous quantitative and longitudinal studies that operationalize pesantren culture as a measurable construct and examine its direct influence on bullying behavior among santri.
Efektivitas Psikoedukasi Berbasis Komunitas untuk Menurunkan Intensitas Penggunaan Gadget dan Internet Pada Anak Clarista Agustina Milo Weo; Suhadianto
Journal of Psychology and Social Sciences Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Psychology and Social Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jpss.v4i1.1589

Abstract

Kecanduan gadget di Kelurahan KTG, Kota Malang, merupakan isu krusial yang ditandai dengan munculnya gejala withdrawal berupa kemarahan dan kegelisahan saat akses internet terputus, serta penurunan kualitas interaksi sosial pada anak. Penelitian ini bermaksud untuk menguji efektivitas psikoedukasi berbasis komunitas dalam menurunkan intensitas penggunaan gadget dan internet pada anak. Desain penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimen (one-group pretest-posttest design) untuk melihat dampak intervensi pada kelompok sasaran. Partisipan dalam penelitian ini melibatkan 65 anak berusia 10–12 tahun yang teridentifikasi memiliki kecenderungan penggunaan gadget berlebihan. Instrumen pengukuran yang digunakan mencakup observasi, wawancara, serta kuesioner terstandar Internet Addiction Test (IAT) dan Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV). Teknik analisis data dilakukan melalui analisis statistik deskriptif dan komparatif untuk mengevaluasi perubahan tingkat kecanduan sebelum dan sesudah pemberian perlakuan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya psikoedukasi yang mengintegrasikan pelatihan kontrol diri (self-control) bagi anak dan penyuluhan pola asuh bagi orang tua efektif dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi serta pengendalian diri subjek. Meskipun perubahan perilaku permanen membutuhkan waktu yang lebih panjang, intervensi ini secara signifikan meningkatkan kesadaran partisipan dalam membatasi waktu penggunaan layar. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi pihak Kelurahan bersama lembaga masyarakat seperti PUSPAGA dan PKK untuk menyelenggarakan program pendampingan berkelanjutan guna memperkuat konsistensi pola asuh di tingkat mikrosistem keluarga.