Pertumbuhan bisnis yang semakin meningkat sering kali diikuti oleh peningkatan volume dan kompleksitas pekerjaan yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang lebih besar. Namun, di tengah tuntutan efisiensi biaya operasional, banyak perusahaan memilih menerapkan praktik rangkap fungsi jabatan (double job) dibandingkan melakukan penambahan tenaga kerja baru. Praktik ini dipandang sebagai salah satu bentuk implementasi functional flexibility yang memungkinkan perusahaan mengoptimalkan pemanfaatan SDM yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik rangkap fungsi jabatan sebagai strategi efisiensi SDM, mengkaji dampaknya terhadap beban kerja dan beban kognitif karyawan, serta menganalisis keterkaitan kedua faktor tersebut terhadap kualitas pengambilan keputusan. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari berbagai artikel jurnal ilmiah terindeks yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir dan memiliki relevansi dengan konsep functional flexibility, workload, cognitive load, dan kualitas pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rangkap fungsi jabatan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan SDM dan fleksibilitas organisasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan operasional. Namun, praktik tersebut juga berpotensi meningkatkan beban kerja (work overload) dan beban kognitif (cognitive load) karyawan. Peningkatan kedua beban tersebut dapat menyebabkan kelelahan kerja, keterbatasan kapasitas pemrosesan informasi, serta penurunan kemampuan individu dalam mengevaluasi alternatif keputusan secara optimal. Temuan ini menunjukkan adanya trade-off antara efisiensi biaya tenaga kerja dan kualitas pengambilan keputusan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan rangkap fungsi jabatan secara proporsional agar manfaat efisiensi yang diperoleh tidak mengorbankan kualitas keputusan dan kinerja organisasi dalam jangka panjang.