Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tabayyun di Era Digital: Integrasi Moralitas Islam dan Falsifikasi Popper Dalam Menghadapi Hoaks Mahardika Muhammad; Muhammad Akmansyah; Abd Rahman Hamid; Idrus Ruslan; Muslimin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.634

Abstract

Abstrak. Hoaks digital menjadi problem serius dalam masyarakat kontemporer karena tidak hanya menyebarkan informasi palsu, tetapi juga membentuk klaim pengetahuan yang tampak benar tanpa dasar epistemik yang memadai. Urgensi masalah ini terlihat di Indonesia, di mana verifikasi hoaks sepanjang 2025 menunjukkan penyebaran yang konsisten melalui berbagai platform media sosial. Penelitian ini bertujuan merumuskan kritik epistemik-etis Islam terhadap hoaks digital melalui integrasi teori falsifikasi Karl Popper dan moralitas Islam. Penelitian menggunakan metode kualitatif kepustakaan dengan pendekatan filosofis-konseptual. Sumber data meliputi karya Karl Popper, literatur mutakhir mengenai misinformasi dan disinformasi, serta sumber-sumber Islam yang membahas tabayyun , sidq, amanah, dan larangan dusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoaks merupakan klaim pseudo-epistemik yang gagal memenuhi syarat pengetahuan karena tidak didukung verifikasi yang memadai dan tidak terbuka terhadap koreksi. Teori falsifikasi Popper berfungsi sebagai instrumen kritik epistemologis dengan menguji suatu klaim melalui kemungkinan salah dan keterbukaannya terhadap bantahan. Namun, pendekatan ini belum sepenuhnya menjawab dimensi tanggung jawab moral dalam penyebaran informasi. Moralitas Islam melengkapi kritik tersebut melalui prinsip verifikasi, kejujuran, amanah, dan kemaslahatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanggulangan hoaks digital memerlukan integrasi antara pengujian rasional terhadap klaim dan tanggung jawab etis subjek informasi. Kerangka ini berkontribusi pada pengembangan etika informasi Islam dalam merespons tantangan hoaks di era digital. Kata kunci: hoaks digital; falsifikasi; moralitas Islam; tabayyun ; etika informasi Islam.
HARMONI PEMELUK AGAMA ISLAM DAN HINDU DI PEKON TELUK KILUAN KECAMATAN KELUMBAYAN KABUPATEN TANGGAMUS Gofar Fathul Rachman; Muslimin; Willia Novi Aryani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6775

Abstract

Artikel ini mengkaji dinamika harmonisasi antara pemeluk agama Islam dan Hindu di Pekon Teluk Kiluan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Secara khusus, penelitian ini menganalisis konstruksi sosial yang terbentuk serta peran modal sosial dalam memperkuat kerukunan antarumat beragama tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terstruktur dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Analisis dilakukan berpijak pada teori modal sosial Robert D. Putnam, dengan fokus pada bonding social capital untuk solidaritas internal, dan bridging social capital untuk kerja sama lintas kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial yang dibangun melalui interaksi intensif dan sikap saling menghormati, mampu menciptakan harmoni pada dimensi sosial maupun spiritual. Lebih lanjut, modal sosial berupa gotong royong dan hubungan timbal balik terbukti memperkuat kohesi sosial, serta memfasilitasi penyelesaian konflik melalui kekeluargaan, musyawarah, dan mediasi. Temuan ini menegaskan bahwa harmonisasi di Pekon Teluk Kiluan tidak hanya tercipta secara mandiri oleh masyarakat, tetapi juga ditopang oleh peran aktif pemerintah pekon melalui program dukungan moderasi beragama.
HARMONY BUILDING BETWEEN MUSLIM AND CATHOLIC COMMUNITIES IN PASURUAN VILLAGE, SOUTH LAMPUNG Muhammad Fauzi Muslim; Suhandi; Willia Novi Aryani; Muslimin
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 22 No. 2 (2026): Religions and Religiosities
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/63ykrd62

Abstract

Sociological studies on religion in Indonesia have persistently framed interreligious harmony as a product of macro-level formal institutional interventions, frequently overlooking the autonomous capacity of rural communities in sustainably reproducing peaceful coexistence. This study addresses the academic problem of how rural grassroots communities maintain social cohesion and establish cultural defense mechanisms amid the challenges of identity fragmentation and external exclusive ideological penetration. Utilizing a qualitative case study method, empirical data were gathered through participant observation, document analysis, and in-depth interviews with key informants, including Islamic leaders, administrators of the Saint Peter and Paul Catholic Church Station of Pasuruan, and members of the Village Community Empowerment Institute (LPM). The theoretical framework relies on Robert Putnam’s social capital theory incorporating bonding, bridging, and linking social capital integrated with the concept of active tolerance. The findings demonstrate that Islamic-Catholic harmony in Pasuruan Village is sustained through three structural-cultural pillars. First, the institutionalization of bridging social capital through spatial coexistence, evident in the proactive participation of the Muslim majority in facilitating legal permits and the physical relocation of the new church building in 2022 directly opposite an Islamic educational institution. Second, the continuous reproduction of cultural social capital through reciprocal religious holiday visitations, inter-institutional logistics sharing between the mosque and church, and interfaith joint national prayers on Independence Day. Third, the mobilization of linking social capital through institutional synergy between the Village Government, LPM, BPD, and interfaith moral authorities to mitigate external sectarian provocations through deliberative, familial mechanisms. These findings affirm that grassroots religious moderation operates organically with self-reliant cultural resilience. Keyword: active tolerance; cultural resilience; religious moderation; social capital; spatial coexistence.   Studi sosiologi agama di Indonesia kerap menempatkan stabilitas kerukunan sebagai produk dari intervensi birokrasi kelembagaan formal berskala makro, sehingga kerap mengabaikan kapasitas otonom masyarakat perdesaan dalam memproduksi perdamaian secara mandiri. Penelitian ini mengkaji problem akademik mengenai bagaimana komunitas akar rumput mereproduksi harmoni sosial dan membangun benteng pertahanan kultural di tengah ancaman polarisasi identitas serta penetrasi paham eksklusif eksternal. Menggunakan metode kualitatif berpendekatan studi kasus, data empiris dikumpulkan melalui observasi partisipatif mendalam, analisis dokumentasi monografi desa, serta wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap informan kunci yang mencakup fungsionaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Pasuruan, tokoh agama Islam, pengurus Gereja Katolik Stasi Pasuruan, dan pamong desa. Kerangka teoretis penelitian ini bertumpu pada teori modal sosial (social capital) Robert Putnam meliputi bonding, bridging, dan linking social capital yang dipadukan dengan perspektif toleransi aktif (active tolerance). Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni Islam-Katolik di Desa Pasuruan terkonstruksi melalui tiga pilar utama. Pertama, pelembagaan bridging social capital melalui koeksistensi spasial, yang tampak nyata dari partisipasi proaktif warga mayoritas Muslim dalam memfasilitasi perizinan dan relokasi fisik bangunan baru Gereja Santo Petrus dan Paulus Stasi Pasuruan pada tahun 2022 tepat di seberang institusi pendidikan Islam tanpa friksi sosial. Kedua, reproduksi modal sosial kultural melalui tradisi anjangsana timbal balik pada hari raya keagamaan (Idulfitri dan Natal), kerja sama logistik sarana ibadah lintas iman, serta pelembagaan doa bersama kebangsaan setiap peringatan 17 Agustus. Ketiga, aktivasi linking social capital yang menyinergikan aparatur Pemerintah Desa, LPM, BPD, dan pemuka agama dalam memitigasi provokasi intoleran luar desa melalui musyawarah kekeluargaan dan asas tabayyun. Temuan ini menegaskan bahwa moderasi beragama di tingkat perdesaan beroperasi secara organik dan memiliki daya tahan sosial yang mandiri.   Kata kunci: koeksistensi spasial; modal sosial; moderasi beragama; resiliensi kultural; toleransi aktif.