Elsi Dwi Hapsari
Departemen Keperawatan Anak dan Maternitas, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN INTERVENSI PSIKOEDUKASI DAN KONSELING DALAM MENGHADAPI PUBERTAS PADA REMAJA AWAL: STUDI KASUS Deskantari Murti Ari Sadewa; Elsi Dwi Hapsari; Wenny Artanty Nisman
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i2.583

Abstract

ABSTRAKPerubahan fisik, sosial, dan psikologis saat pubertas berisiko menyebabkan kecemasan pada remaja awal terutama apabila tidak diikuti dengan masukan pengetahuan yang cukup. Tujuan penelitian: studi kasus ini bertujuan untuk mengeksplorasi intervensi keperawatan mandiri yang sesuai untuk diterapkan pada remaja yang menghadapi pubertas. Keluhan utama pasien: Pendekatan studi kasus diterapkan untuk menangani masalah klien An. AR, 13 tahun, perempuan, dengan keluhan kecemasan ekstrem, kurang informasi, dismenorea, dan gatal pada saat menggunakan pembalut. Intervensi yang dilakukan berupa tiga kali psikoedukasi dan dua kali konseling yang dilaksanakan selama lima minggu dengan media edukasi yang beragam berupa handout materi, video edukasi, selebaran, poster, dan buklet. Kegiatan dilaksanakan secara daring dengan durasi 30–60 menit setiap sesi. Hasil: Pengukuran variabel pengetahuan dan kecemasan sebagai evaluasi diukur sebelum dan setelah intervensi dengan menggunakan instrumen pengetahuan (rata-rata pre = 48, rata-rata post = 88) dan instrumen kecemasan General Anxiety Disorder-7 (GAD-7) (pre = 19 [ekstrem], post = 11[sedang]). Skor dismenorea diukur dengan menggunakan skala VAS (pre = 7 [berat], post = 4[sedang]). Kesimpulan: Berdasarkan hasil tindak lanjut intervensi keperawatan yang telah dilakukan pada klien, terdapat perkembangan yang baik sejalan dengan bukti ilmiah yang ada, yakni terjadi peningkatkan nilai skor pengetahuan, penurunan nilai skor kecemasan pada klien, penurunan skor dismenorea, dan penurunan keluhan gatal akibat penggunaan pembalut. Studi ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris perihal intervensi keperawatan yang dapat digunakan untuk memfasilitasi remaja dalam mengurangi kecemasan akibat pubertas dan meningkatkan pengetahuan terkait dengan kesehatan reproduksi. Kata Kunci: kecemasan, konseling, pengetahuan, psikoedukasi, pubertas Application of Psychoeducation and Counseling Interventions in Dealing with Puberty in Early Adolescents: A Case Study ABSTRACT               Physical, social and psychological changes during puberty could cause anxiety in early adolescents, especially if they are not equipped with sufficient knowledge input. Objective: This case study is needed to explore independent nursing interventions that are suitable for application to adolescents. Patient’s main complaint: A case study approach was carried out toward client's problem. AR, female, 13 years old, with complaints of extreme anxiety, lack of information, dysmenorrhoea, and itching when using sanitary napkins. The intervention carried out was three times psychoeducation and two times counseling which was carried out for five weeks using various educational media in the form of power points, educational videos, leaflets, posters and booklets. Activities are carried out online with a duration of 30–60 minutes per session. Results: Measurement of knowledge and anxiety variables as an evaluation was measured before and after the intervention using the knowledge instrument (average pre = 48, average post = 88) and the General Anxiety Disorder-7 (GAD-7) anxiety instrument (pre = 19 [extreme], post = 11[medium]). Dysmenorrhoea score was measured using the VAS scale (pre = 7 [severe], post = 4 [moderate]). Conclusion: Based on the results of follow-up nursing interventions that have been carried out on client, it shows that there is good progress in line with existing scientific evidence, where there is an increase in knowledge scores, a decrease in anxiety scores in client, a decrease in dysmenorrhoea scores, and a decrease in complaints of itching due to the use of sanitary napkins. This study is expected to provide empirical evidence on nursing interventions that can be used to facilitate adolescents in reducing anxiety due to puberty and increasing knowledge related to reproductive health. Keywords: anxiety, counseling, knowledge, psychoeducation, puberty
Studi Kasus: Implementasi Edukasi dan Penggunaan Vaginal Hygiene Kits Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku Penanganan Keputihan pada Remaja Vina Yunistyaningrum; Elsi Dwi Hapsari; Ika Parmawati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i1.584

Abstract

Rendahnya pengetahuan dan kesadaran remaja dalam melakukan praktik kebersihan organ reproduksi dapat berisiko pada keparahan keputihan. Keputihan merupakan salah satu tanda adanya infeksi pada organ genitalia dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Tujuan Penelitian: Laporan studi kasus ini bertujuan untuk melaporkan pengaruh edukasi dan penggunaan vaginal hygiene kits terhadap pengetahuan dan praktik kebersihan organ reproduksi remaja wanita dalam menangani keputihan. Metode: Jumlah kasus yang dikelola pada studi ini sebanyak 1 kasus. Studi kasus diangkat dari masalah keputihan remaja perempuan yang mengarah pada ciri-ciri keputihan patologis dan tidak ditangani dengan baik. Keputihan terjadi hampir setiap hari selama 2 tahun terakhir, dengan karakteristik putih susu keruh, jumlah banyak, dan menimbulkan bau tidak sedap serta gatal di area vagina. Intervensi pertama yang diberikan berupa edukasi kebersihan organ reproduksi selama 1 jam dengan media animasi audiovisual. Intervensi kedua ialah praktik kebersihan genitalia dengan menggunakan vaginal hygiene kits yang dipantau perkembangannya dalam waktu 4 minggu. Pengetahuan dan praktik vaginal hygiene dievaluasi menggunakan kuesioner dan checklist. Hasil: Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan sebanyak 22% (pre = 65%, post = 87%) dan skor perilaku sebanyak 42,86% (pre = 42,85%. post = 85,71%). Kesimpulan: Penanganan masalah keputihan pada remaja lebih efektif apabila terdapat kombinasi edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan vaginal hygiene kits sebagai upaya peningkatan praktik kebersihan genitalia. Pada praktik klinisnya, pengkajian kebersihan genitalia perlu dilakukan secara komprehensif. Sehingga proses pencegahan dan penanganan keputihan dapat dilakukan secara maksimal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi dampak kesehatan dari vaginal hygiene.Kata Kunci: keputihan, pengetahuan, perilaku, remaja, vaginal hygiene kits A Case Study: Implementation of Education and Use of Vaginal Hygiene Kits for Enhancing Knowledge and Management Practices of Vaginal Discharge Among Adolescents ABSTRACT Low knowledge and awareness among adolescents regarding reproductive hygiene practices can increase the severity of vaginal discharge. Vaginal discharge is often a sign of infection in the genital organs and can lead to various complications. Objective: This case study report aims to examine the impact of education and the use of vaginal hygiene kits on adolescent girls' knowledge and hygiene practices for managing vaginal discharge. Methods: This study involved a single case focusing on an adolescent girl with symptoms indicating pathological vaginal discharge that had not been properly managed. The discharge occurred almost daily over the past two years, characterized by a milky, cloudy appearance, strong odor, and itching in the vaginal area. The first intervention involved a 1-hour educational session on reproductive hygiene using audiovisual animation. The second intervention was a practical session on genital hygiene using vaginal hygiene kits, with progress monitored over four weeks. Knowledge and hygiene practices were evaluated using a questionnaire and checklist. Results: The intervention resulted in a 22% increase in knowledge scores (pre = 65%, post = 87%) and a 42.86% increase in behavior scores (pre = 42.85%, post = 85.71%). Conclusion: Addressing vaginal discharge in adolescents is more effective when combining educational sessions to improve knowledge with vaginal hygiene kits to enhance genital hygiene practices. In clinical practice, comprehensive assessment of genital hygiene is essential for effective prevention and management of vaginal discharge. Further research is recommended to evaluate the health impacts of vaginal hygiene practices.Keywords: Vaginal discharge, knowledge, behavior, adolescents, vaginal hygiene kits