Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Development of Chitosan-Based Antibacterial Bioplastic from Shrimp Shell Waste with the Addition of Patchouli Oil (Pogostemon cablin Benth) Pardi, Pardi; K, M. Rizal; Mizar, Khalid; Rizki, Mentarina; Alex Aji Kusuma
Elkawnie Vol. 12 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v12i1.32274

Abstract

Abstract: Plastic waste pollution remains a critical global issue, with fossil-based plastics contributing significantly to environmental damage. Bioplastics derived from organic residues are a promising alternative for sustainable packaging. In this study, shrimp shell waste was converted into chitosan and combined with patchouli essential oil (PEO) and cellulose nanocrystals (CNC) from corn cob waste to develop antibacterial bioplastic films. PEO was incorporated using both Tween-80 and CNC-stabilized Pickering emulsions at different oil concentrations (20%, 30%, and 40%). The fabricated films were characterized for thickness, tensile strength, elongation, water solubility, moisture content, biodegradability, antibacterial activity, and morphology. Results showed that Tween-80 stabilized films exhibited the highest tensile strength (6.32 MPa), whereas CNC-based Pickering emulsions improved flexibility and antibacterial properties. Increasing PEO content in Pickering emulsions enhanced antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli, with the C2E40 film achieving the largest inhibition zones (22.00 mm and 17.92 mm, respectively). Films containing CNC also displayed reduced moisture content and improved biodegradability, with up to 74.03% degradation in soil burial tests. SEM analysis confirmed more porous structures with increasing PEO concentration, particularly in Pickering emulsion films. Overall, CNC-stabilized emulsions effectively enhanced the incorporation and release of PEO, producing bioplastic films with improved antibacterial properties and biodegradability for potential food packaging applications. Abstrak: Pencemaran limbah plastik masih menjadi isu global yang krusial, di mana plastik berbasis fosil memberikan kontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan. Bioplastik yang berasal dari residu organik menjadi salah satu alternatif berkelanjutan untuk kemasan ramah lingkungan. Pada penelitian ini, limbah cangkang udang diolah menjadi kitosan dan dikombinasikan dengan minyak nilam (patchouli essential oil/PEO) serta nanokristal selulosa (CNC) dari limbah tongkol jagung untuk menghasilkan film bioplastik antibakteri. PEO diinkorporasikan menggunakan dua metode, yaitu emulsi dengan Tween-80 dan emulsi Pickering yang distabilkan oleh CNC pada berbagai konsentrasi minyak (20%, 30%, dan 40%). Film yang dihasilkan dikarakterisasi berdasarkan ketebalan, kekuatan tarik, elongasi, kelarutan air, kadar air, biodegradabilitas, aktivitas antibakteri, dan morfologi. Hasil menunjukkan bahwa film dengan emulsi Tween-80 memiliki kekuatan tarik tertinggi (6,32 MPa), sedangkan emulsi Pickering berbasis CNC meningkatkan fleksibilitas dan aktivitas antibakteri. Peningkatan konsentrasi PEO pada emulsi Pickering memperkuat aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, dengan film C2E40 menghasilkan zona hambat terbesar (22,00 mm dan 17,92 mm). Penambahan CNC juga menurunkan kadar air dan meningkatkan biodegradabilitas hingga 74,03% pada uji tanam tanah. Analisis SEM menunjukkan struktur lebih berpori seiring meningkatnya konsentrasi PEO. Secara keseluruhan, emulsi Pickering yang distabilkan CNC efektif meningkatkan distribusi dan pelepasan PEO, menghasilkan film bioplastik dengan sifat antibakteri dan biodegradabilitas yang lebih baik untuk aplikasi kemasan pangan.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT PURUN TIKUS (ELEOCHARIS DULCIS) PADA KOMPOSIT POLIESTER TERHADAP SIFAT TERMAL Pardi Pardi; Herawati Herawati; Kurnia Rahmayanti; Alex Aji Kusuma
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol. 11 No. 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i2.5405

Abstract

Masyarakat Desa Stambul Jaya di Kabupaten Aceh Tenggara telah lama memanfaatkan tanaman purun tikus (Eleocharis dulcis), sejenis rumput rawa yang tumbuh subur di lahan basah, untuk membuat berbagai kerajinan seperti tikar, topi, dan bakul. Kini, tanaman ini mulai dilirik sebagai bahan baku potensial dalam pembuatan material komposit yang ramah lingkungan. Sebuah penelitian dilakukan untuk membuat papan komposit berukuran 20 × 20 × 0,5 cm dari serat purun yang dicampur dengan resin poliester. Peneliti menguji beberapa variasi kadar serat (5%, 10%, dan 15%) serta arah susunan serat, yaitu sejajar, acak, dan anyaman, untuk melihat pengaruhnya terhadap ketahanan panas bahan komposit. Hasil uji Thermogravimetric Analysis (TGA) menunjukkan bahwa komposit dengan susunan sejajar 15%, acak 10%, dan anyaman 15% memiliki ketahanan panas tertinggi. Di antara semua variasi, susunan anyaman 10% menunjukkan hasil terbaik karena tetap stabil pada suhu tinggi. Uji Differential Scanning Calorimeter (DSC) memperkuat hasil tersebut, dengan suhu puncak tertinggi mencapai sekitar 500°C pada susunan anyaman 10%. Temuan ini membuktikan bahwa serat purun tikus dapat meningkatkan stabilitas termal dan kekuatan bahan komposit sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan lingkungan. Dari bahan sederhana pembuat kerajinan, purun kini berpotensi menjadi sumber inovasi baru dalam industri hijau yang memberdayakan masyarakat lokal sekaligus menjaga kelestarian alam.