Mimi Yati
Prodi S1 Keperawatan dan Ners, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Mandala Waluya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peningkatan Literasi dan Skrining Kesehatan Mental Berbasis Komunitas untuk Mencegah Gangguan Mental Armayani; Mimi Yati; Dewi Sari Pratiwi; Noviati; Laode Muhammad Adlu; La Ode Muhammad Arsyi; Artha Yuni Sucitra
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Anoa Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Anoa
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmba.v5i1.1743

Abstract

Kesehatan mental merupakan komponen kesehatan yang sering terabaikan di masyarakat. Rendahnya literasi kesehatan mental dan minimnya deteksi dini melalui skrining menyebabkan banyak kasus gangguan mental tidak tertangani secara optimal di tingkat komunitas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental masyarakat Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) dengan melibatkan 105 peserta Penyuluhan dilakukan secara interaktif menggunakan media audiovisual, leaflet, dan diskusi kelompok terfokus (FGD). Evaluasi literasi menggunakan instrumen Mental Health Literacy Questionnaire-Short Version Adult (MHLq-SVa) melalui pre-test dan post-test. Skrining kesehatan mental dilaksanakan menggunakan tiga instrumen terstandarisasi, yaitu Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7). Analisis data menggunakan uji statistik paired t-test. Terjadi peningkatan rata-rata skor literasi kesehatan mental yang signifikan dari 48,4 (pre-test) menjadi 78,5 (post-test), dengan persentase peningkatan sebesar 62,2% (p-value = 0,000). Hasil skrining SRQ-20 menunjukkan 29,5% peserta berisiko gangguan mental umum. Skrining PHQ-9 mengidentifikasi 41,9% peserta dengan gejala depresi, dan GAD-7 menemukan 39,0% peserta dengan gejala kecemasan pada berbagai tingkat keparahan. Sebanyak 18 peserta (17,1%) dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut. Integrasi program peningkatan literasi dan skrining kesehatan mental berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat sekaligus mendeteksi dini kasus gangguan mental yang belum tertangani. Pendekatan CBPR dengan pelibatan aktif kader kesehatan lokal menjadi kunci keberhasilan program. Kegiatan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer yang berkelanjutan.