Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hakikat Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Analisis Komponen, Prinsip, dan Fungsinya dalam Pembelajaran Abad ke-21 Munawaroh Munawaroh; Zahra Albaturrizkiyah; Irwandi Sihombing
Paedagogos: Journal of Education and Learning Vol. 2 No. 1 (2026): Paedagogos Journal of Education and Learning
Publisher : Yayasan Mutiara Hati Moeslem

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64131/paedagogos.v2i1.124

Abstract

Strategi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting yang menentukan keberhasilan proses pendidikan, khususnya dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini penting dilakukan karena kajian mengenai strategi pembelajaran PAI masih cenderung membahas aspek metode pembelajaran secara parsial, sedangkan analisis komprehensif mengenai keterkaitan komponen, prinsip, dan fungsi strategi pembelajaran dalam konteks transformasi pendidikan digital masih relatif terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber literatur berupa buku, artikel ilmiah, dan dokumen akademik yang relevan dengan strategi pembelajaran PAI. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PAI merupakan perencanaan sistematis yang mengintegrasikan tujuan pembelajaran, peserta didik, materi, metode, media, dan evaluasi untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif. Prinsip strategi pembelajaran PAI meliputi orientasi pada tujuan, berpusat pada peserta didik, pengembangan aktivitas belajar, perhatian terhadap perbedaan individu, dan integrasi nilai-nilai Islam. Adapun fungsinya mencakup pedoman pelaksanaan pembelajaran, pencapaian tujuan pendidikan, kemudahan penyampaian materi, peningkatan keaktifan peserta didik, serta penciptaan pembelajaran yang efektif dan efisien. Kebaruan kajian ini terletak pada upaya mensintesiskan berbagai konsep strategi pembelajaran PAI ke dalam kerangka konseptual yang relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21, khususnya pada aspek digitalisasi pembelajaran, pembelajaran berbasis teknologi, dan penguatan karakter Islami peserta didik.
Kajian Tasawuf dalam Perspektif Multidisipliner: Analisis Literatur terhadap Pendekatan Historis, Fenomenologis, Psikologis, dan Antropologis Nur Annisa; Munawaroh Munawaroh; Anas Habibi Ritonga
Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 3 (2026): Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies
Publisher : Yayasan Mutiara Hati Moeslem

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64131/ahad.v2i3.123

Abstract

Sufism has been widely studied from historical, theological, phenomenological, psychological, and anthropological perspectives; however, these approaches are often discussed separately, resulting in limited conceptual integration for understanding Sufism as a multidimensional phenomenon. This study aims to examine Sufism through an integrated multidisciplinary perspective by connecting historical, phenomenological, psychological, and anthropological approaches. This research employed a qualitative library research design using content analysis of classical and contemporary literature on Sufism. The literature was selected based on its relevance to the historical development, spiritual experience, psychological dimensions, and socio-cultural functions of Sufism. The findings indicate that the four approaches reveal complementary dimensions of Sufism. Historically, Sufism developed from early ascetic practices into a systematic intellectual and spiritual tradition and subsequently into institutional forms such as Sufi orders. Phenomenologically, Sufism is understood through the subjective meaning of spiritual experiences, including mahabbah, fana, baqa, and ma‘rifah. Psychologically, Sufi practices such as dhikr, muhasabah, muraqabah, and spiritual discipline are related to self-regulation, emotional stability, and the cultivation of personality, although their psychological implications should be interpreted within their religious context. Anthropologically, Sufism functions not only as individual spirituality but also as a social and cultural institution that participates in the formation of collective identity, religious transmission, and local traditions. The novelty of this study lies in formulating an integrated analytical framework in which the four approaches are treated as complementary rather than isolated perspectives. Theoretically, this integration contributes to Islamic Studies by positioning Sufism simultaneously as a historical tradition, lived spiritual experience, psychological process, and socio-cultural phenomenon.