Khoirul Rista Abidin
Program Studi DIV Teknologi Laboratorium Medis, Politeknik ‘Aisyiyah Pontianak, Pontianak, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Uji Aktivitas Anti Jerawat Krim Kratom (Mitragyna speciosa) pada Tikus Wistar yang Diinduksi Propionibacterium acnes Ariffialdi Nurhidyattulloh; Fath Dwisari; Adelia Chintya Ningrum; Khoirul Rista Abidin; Abdurraafi’ Maududi Dermawan; Nur Arsella; M. Dzaki Al Ghifari; M. Fikri Amrulloh; M. Erik Fernando; Sulisti Okta Romadhon
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1104

Abstract

Jerawat (acne vulgaris) merupakan gangguan kulit inflamasi kronis yang berhubungan dengan inflamasi akibat Propionibacterium acnes (P. acnes). Meningkatnya kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif terapi topikal berbasis bahan alam. Mitragyna speciosa (M. speciosa), yang dikenal sebagai kratom, mengandung metabolit sekunder bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, senyawa fenolik, dan saponin yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi anti jerawat dari krim topikal yang diformulasikan menggunakan ekstrak metanol M. speciosa. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi, dilanjutkan dengan skrining fitokimia dan formulasi krim dengan konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 15%. Aktivitas antibakteri terhadap P. acnes diuji menggunakan metode difusi cakram. Uji in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina yang diinduksi P. acnes, dibagi ke dalam lima kelompok (n = 6 per kelompok), yaitu kontrol tanpa terapi (Acnes), asam azelaic (Aaz), serta tiga kelompok perlakuan krim ekstrak (MG 5, MG 10, MG 15). Tingkat keparahan jerawat dinilai melalui skor klinis dan pemeriksaan histopatologi jaringan telinga. Skrining fitokimia mengonfirmasi keberadaan alkaloid, flavonoid, fenol, dan saponin. Krim ekstrak konsentrasi 10% dan 15% menghasilkan zona hambat masing-masing sebesar 7,97 ± 0,40 mm dan 8,27 ± 0,91 mm, lebih rendah dibandingkan krim asam azelaic 20% (15,80 ± 0,00 mm). Analisis nonparametrik menggunakan uji Kruskal–Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok pada hari ke-3 dan ke-5 (p > 0,05). Meskipun demikian, kelompok perlakuan ekstrak menunjukkan kecenderungan penurunan skor jerawat secara deskriptif, yang didukung oleh perbaikan gambaran histopatologis jaringan telinga. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi aktivitas biologis krim ekstrak metanol M. speciosa sebagai kandidat terapi topikal jerawat, namun efektivitasnya masih memerlukan konfirmasi melalui optimasi formulasi dan penelitian lanjutan dengan kekuatan statistik yang lebih memadai.