Di Indonesia maupun di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius. Seringkali hipertensi tidak terdeteksi atau tidak diobati dengan baik, sehingga meningkatkan risiko konsekuensi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Pasien dengan hipertensi yang memerlukan terapi jangka panjang dan modifikasi gaya hidup terkadang kesulitan dalam mematuhi pengobatan hipertensi. Amlodipin seringkali dikombinasi dengan candesartan karena dapat meningkatkan kepatuhan dan kontrol hipertensi yang adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara kepatuhan pengobatan pasien yang menerima kombinasi amlodipine dan candesartan dengan efek terapeutik. Penelitian ini merupakan cross-sectional survey di Puskesmas Kapuan Blora pada bulan Desember 2025 menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) digunakan untuk mengevaluasi kepatuhan pengobatan, dan pedoman manajemen hipertensi kementrian kesehatan RI 2021 digunakan untuk mengevaluasi efek terapeutik pasien. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 31 pasien. Temuan menunjukkan bahwa pasien 61,3% patuh dan tekanan darah terkontrol; 38,7% tidak patuh dan tekanan darah tidak terkontrol. Faktor dominan yang berkontribusi terhadap ketidakpatuhan pengobatan pada penelitian kali ini yaitu lupa mengonsumsi obat, penghentian terapi tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan timbulnya ketidaknyamanan atau penolakan untuk minum obat setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pengobatan dan efek terapeutik pasien yang menerima amlodipine dan candesartan, dengan nilai Fisher’s Exact test sig (2 Sided) <0,001.