Masalah gizi pada anak usia sekolah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dan berdampak pada perkembangan fisik, kognitif, dan prestasi belajar. Salah satu strategi penting adalah penguatan usaha kecil berbasis pangan lokal bergizi agar mampu menyediakan produk sehat dan terjangkau untuk mendukung program makan bergizi. Namun, pelaku usaha pangan, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT), sering menghadapi kendala dalam manajemen usaha, pencatatan keuangan, dan strategi pemasaran, sehingga daya saing produk masih rendah. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui pelatihan manajemen usaha untuk inovasi pangan lokal bergizi di Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo. Metode yang digunakan bersifat partisipatif-aplikatif dengan kombinasi ceramah interaktif, praktik langsung, diskusi kelompok, serta evaluasi pre-test dan post-test. Peserta berjumlah 30 orang anggota KWT yang memiliki antusiasme dalam pengembangan usaha pangan. Hasil: kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan peserta. Rata-rata skor pengetahuan meningkat 56,9% meliputi aspek manajemen usaha, pencatatan keuangan sederhana, dan strategi pemasaran. Peserta mampu menghasilkan produk pangan olahan berbasis lokal (abon lele dan ayam dengan fortifikasi daun kelor) yang tidak hanya bergizi tetapi juga bernilai ekonomi. Selain itu, peserta berhasil menyusun rencana pemasaran sederhana, termasuk pemanfaatan media sosial dan kemasan menarik. Sebagian besar peserta menyatakan minat untuk mengembangkan usaha berbasis kelompok maupun individu. Kesimpulan: Pelatihan ini efektif dalam meningkatkan kapasitas manajemen usaha dan keterampilan inovasi pangan lokal bergizi. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada penyediaan makanan sehat untuk anak sekolah. Program ini berpotensi direplikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi pangan lokal setempat