Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang prevalensinya masih tinggi di Indonesia, khususnya pada kelompok remaja. Mayoritas kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut karena minimnya pengetahuan tentang tanda-tanda awal karies, termasuk lesi bercak putih (white spot lesion) yang pada tahap ini sesungguhnya masih bersifat reversibel. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMK Al-Sya’iriyah, Limpung, Batang, tentang deteksi dini karies gigi melalui program edukasi interaktif “Mata Jeli, Gigi Sehat”. Kegiatan dilaksanakan pada 12 Juni 2025 dengan desain one-group pre-post test yang melibatkan 35 siswa. Intervensi terdiri atas empat sesi edukasi yang mencakup identifikasi visual karies tahap awal, pengenalan gejala non-visual, konsep remineralisasi, serta opsi perawatan preventif. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test untuk perbandingan nilai pengetahuan dan uji Wilcoxon signed-rank untuk perbandingan distribusi kategori. Rerata nilai pretest sebesar 47,43 ± 14,42 meningkat secara signifikan menjadi 78,29 ± 14,35 pada posttest, dengan rerata peningkatan 30,86 ± 5,07. Uji paired t-test menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan [t(34) = 36,01, p < 0,001] dengan ukuran efek yang sangat besar (Cohen’s d = 2,14). Uji Wilcoxon mengonfirmasi perubahan distribusi kategori yang signifikan (p < 0,001), di mana proporsi siswa berkategori “tinggi” meningkat dari 0% menjadi 62,9%. Program edukasi interaktif berbasis visual ini terbukti efektif meningkatkan pengetahuan deteksi dini karies pada remaja, mendukung paradigma kedokteran gigi minimal invasif. Dental caries remains a highly prevalent oral health problem in Indonesia, particularly among adolescents. Most cases are detected at advanced stages due to limited awareness of early caries signs, including white spot lesions, which are still reversible at that stage. This community service program aimed to improve the knowledge of students at SMK Al-Sya’iriyah, Limpung, Batang, regarding early dental caries detection through an interactive educational program titled “Sharp Eyes, Healthy Teeth” (Mata Jeli, Gigi Sehat). The program employed a one-group pre-post test design involving 35 students on June 12, 2025. The intervention comprised four educational sessions covering visual identification of early caries, non-visual symptoms, remineralization principles, and preventive treatment options. Data were analyzed using a paired t-test for score comparison and the Wilcoxon signed-rank test for categorical distribution. Mean pre-test scores (47.43 ± 14.42) increased significantly to 78.29 ± 14.35 at post-test, with a mean improvement of 30.86 ± 5.07. The paired t-test demonstrated a highly significant difference [t(34) = 36.01, p < 0.001] with a very large effect size (Cohen’s d = 2.14). The Wilcoxon test confirmed a significant shift in knowledge category distribution (p < 0.001), with the proportion of students in the “high” category increasing from 0% to 62.9%. The visual-based interactive educational program was effective in significantly improving adolescents’ early dental caries detection knowledge, supporting the minimal invasive dentistry paradigm.