Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menelusuri Peran Masjid Sebagai Agen Perubahan Sosial: Studi Pada Masjid Raya Al-Bakrie Bandar Lampung Nina Puspita Sari; Suhandi; Willia Novi Aryani
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.8021

Abstract

Masjid pada era modern tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi institusi sosial yang berperan dalam mendorong perubahan sosial-keagamaan masyarakat. Keberadaan Masjid Raya Al-Bakrie di kawasan Taman Gajah Enggal Bandar Lampung menjadi fenomena menarik karena mampu mengubah kawasan yang sebelumnya kurang kondusif menjadi ruang sosial-keagamaan yang lebih produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sosial masyarakat sebelum dan sesudah pembangunan Masjid Raya Al-Bakrie serta menganalisis efektivitas program-program masjid sebagai agen perubahan sosial-keagamaan dalam perspektif Teori Difusi Inovasi Everett Rogers. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan Masjid Raya Al-Bakrie membawa perubahan sosial yang ditandai dengan meningkatnya keteraturan sosial, keamanan lingkungan, aktivitas keagamaan, serta pemanfaatan ruang publik yang lebih positif. Program-program masjid, seperti ibadah berjamaah, Kajian, Jum'at Berkah, santunan sosial, dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, terbukti efektif dalam meningkatkan religiusitas, memperkuat solidaritas sosial, menumbuhkan kepedulian masyarakat, dan mendukung aktivitas ekonomi lokal. Analisis Teori Difusi Inovasi menunjukkan bahwa perubahan tersebut terjadi melalui proses pengetahuan, ketertarikan, keputusan, pelaksanaan, dan penguatan hingga program-program masjid diterima dan diterapkan oleh masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Masjid Raya Al-Bakrie berperan efektif sebagai agen perubahan keagamaan sosial yang mampu mendorong transformasi sosial masyarakat secara berkelanjutan. Kata Kunci: Masjid Raya Al-Bakrie; Perubahan Sosial-Keagamaan; Difusi Inovasi.
MOTIVASI PARA LANSIA DAN PARUH BAYA DALAM MENGIKUTI MAJELIS TAKLIM AL-HIDAYAH DI KELURAHAN GARUNTANG KECAMATAN BUMI WARAS KOTA BANDAR LAMPUNG Ahmad Sanusi; Suhandi; Willia Novi Aryani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6738

Abstract

Penelitian ini memiliki relevansi penting dalam mengungkap motivasi kelompok usia paruh baya dan lansia dalam mengikuti kegiatan di Majlis Taklim Al-Hidayah serta memberikan kontribusi akademik terhadap kajian mengenai hubungan antara religiusitas, kebutuhan sosial, dan kesejahteraan psikologis pada fase usia tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk motivasi keagamaan yang mendorong keterlibatan jamaah dalam kegiatan majelis taklim sekaligus menganalisis peran majelis taklim dalam memenuhi kebutuhan spiritual, sosial, dan psikologis para anggotanya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam, dengan analisis yang memanfaatkan teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, khususnya tahap generativitas versus stagnasi pada usia paruh baya dan integritas ego versus keputusasaan pada usia lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keikutsertaan jamaah berusia 45–65 tahun dipengaruhi oleh menurunnya aktivitas produktif, munculnya perasaan kesepian, serta meningkatnya kesadaran akan dimensi spiritual dan kehidupan setelah kematian. Kondisi tersebut mendorong mereka untuk memperdalam praktik keagamaan sebagai sarana memperoleh ketenangan batin, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta menemukan kembali makna hidup pada usia senja. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa majelis taklim berperan tidak hanya sebagai ruang pembelajaran agama, tetapi juga sebagai komunitas sosial yang memberikan dukungan emosional, rasa memiliki, dan jaringan pertolongan sosial yang penting bagi kesejahteraan sosial, psikologis, dan spiritual para jamaah pada fase paruh baya dan lanjut usia.