This study aims to examine the concept of Paul’s militancy based on 2 Corinthians 4:7–15 and its implications for contemporary pastoral ministry. This research is motivated by the increasing complexity of pastoral challenges, including psychological pressure, congregational conflicts, ministry burnout, and social pressures that affect the spiritual resilience of church leaders. The study employs a qualitative method using a theological and biblical analysis approach to the text of 2 Corinthians 4:7–15. The findings reveal that Paul’s militancy should not be understood as radicalism or violence, but rather as steadfast faith, courage, commitment, and spiritual endurance in carrying out God’s calling amid suffering. Paul’s militancy is reflected through total dependence on God, resilience in facing pressure, perseverance in difficult circumstances, confidence in God’s presence, willingness to sacrifice for the Gospel, orientation toward God’s glory, and strong eschatological hope. Furthermore, this study finds that Paul’s militancy has significant relevance for contemporary pastoral ministry, particularly in developing pastoral leadership that is resilient, faithful, and steadfast amid the dynamics of modern church ministry. Therefore, Paul’s militancy in 2 Corinthians 4:7–15 can serve as a theological and pastoral model for church leaders in carrying out Christ-centered ministry oriented toward the glory of God. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji konsep militansi Paulus berdasarkan 2 Korintus 4:7–15 serta implikasinya bagi pelayanan gembala sidang masa kini. Kajian ini dilatarbelakangi oleh semakin kompleksnya tantangan pelayanan pastoral, seperti tekanan psikologis, konflik jemaat, kejenuhan pelayanan, serta tekanan sosial yang memengaruhi ketahanan rohani para pelayan Tuhan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi teologis dan analisis biblika terhadap teks 2 Korintus 4:7–15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa militansi Paulus tidak dipahami sebagai tindakan radikal atau kekerasan, melainkan sebagai keteguhan iman, keberanian, kesetiaan, dan ketahanan rohani dalam menjalankan panggilan pelayanan di tengah penderitaan. Militansi Paulus tercermin melalui ketergantungan penuh kepada Allah, ketahanan menghadapi tekanan, sikap tidak mudah putus asa, keyakinan akan penyertaan Allah, kesediaan berkorban demi Injil, orientasi hidup bagi kemuliaan Allah, serta pengharapan eskatologis yang kuat. Kajian ini juga menemukan bahwa militansi Paulus memiliki relevansi yang signifikan bagi pelayanan gembala sidang masa kini, khususnya dalam membangun kepemimpinan pastoral yang tangguh, setia, dan berdaya tahan di tengah dinamika pelayanan gereja modern. Dengan demikian, militansi Paulus dalam 2 Korintus 4:7–15 dapat menjadi model teologis dan pastoral bagi para pemimpin gereja dalam menjalankan pelayanan yang berpusat kepada Kristus dan berorientasi pada kemuliaan Allah.