Aktivitas fisik yang rendah pada generasi muda menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius, sementara media sosial telah menjadi ruang komunikasi publik paling strategis untuk menjangkau kelompok ini. Penelitian bertujuan menganalisis strategi komunikasi media sosial, menelaah bentuk pesan dan tahapan persuasif. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus yang diperkuat observasi partisipatif di Bagian Humas Kemenpora. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur tim publikasi media sosial dan observasi proses produksi konten, dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman serta lensa teori strategi komunikasi Lasswell dan komunikasi persuasif Alvonco. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi melalui pembagian peran tim berbasis rubrik tematik (komunikator), pesan utama yang memosisikan olahraga sebagai gaya hidup sehat lintas usia di luar narasi prestasi semata (pesan), Instagram dan TikTok sebagai kanal utama generasi muda (media), segmentasi audiens berlapis dari usia dini hingga lanjut usia (khalayak), serta evaluasi berbasis insight engagement (efek). Pada dimensi persuasif, tim menerapkan keempat tahap Johnson Alvonco secara berurutan namun menghadapi keterbatasan pada tahap meyakinkan dan mendorong tindakan karena ketiadaan data konversi perilaku. Penelitian menyimpulkan bahwa efektivitas komunikasi persuasif Kemenpora terbatas pada tahap awareness dan belum sampai pada pembuktian perubahan perilaku, sehingga diperlukan integrasi data lintas-unit dan penguatan storytelling humanis.