Usaha produksi batako berbasis alat cetak manual merupakan salah satu sektor UMKM yang penting bagi penyediaan material bangunan terjangkau di daerah terpencil Papua Barat, namun kajian empiris tentang profitabilitas dan kelayakan usaha sejenis di wilayah ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis total biaya produksi, pendapatan kotor, laba bersih, serta kelayakan finansial Usaha Batako Dindey di Kampung Uripcu, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari melalui empat instrumen analisis: R/C ratio, Break Even Point (BEP), Harga Pokok Produksi (HPP), dan marjin kontribusi. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal dan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi langsung proses produksi, dan dokumentasi catatan keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) total biaya produksi per bulan sebesar Rp 7.375.000 yang terdiri dari biaya tetap Rp 3.525.000 dan biaya variabel Rp 3.850.000, dengan HPP per batako sebesar Rp 1.180; (2) penerimaan kotor per bulan sebesar Rp 12.500.000 dari produksi 6.250 batako dengan harga jual Rp 2.000 per batako; (3) laba bersih per bulan sebesar Rp 5.125.000, mewakili margin laba bersih 41,0%; (4) R/C ratio sebesar 1,69, jauh di atas ambang 1,0; (5) BEP unit sebesar 2.547 batako/bulan (40,8% dari kapasitas) dengan margin of safety 59,2%; dan (6) marjin kontribusi per unit Rp 1.384 dengan Rasio Marjin Kontribusi (RMC) 69,2%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Usaha Batako Dindey adalah usaha yang layak dan menguntungkan, namun membutuhkan penerapan sistem pencatatan keuangan yang terstruktur, manajemen persediaan bahan baku yang lebih baik, dan strategi antisipasi terhadap fluktuasi permintaan musiman.