Usaha mikro Orang Asli Papua (OAP) di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, menghadapi tantangan struktural dalam mempertahankan laba akibat keterbatasan pengelolaan modal dan praktik piutang berbasis kekeluargaan yang mengakar kuat dalam budaya komunal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengelolaan modal usaha dan manajemen piutang dilakukan oleh pelaku usaha mikro OAP, mengidentifikasi hambatan akses permodalan formal, dan memahami pengaruh kedua aspek tersebut terhadap kemampuan mempertahankan laba usaha. Berlandaskan grand theory pemberdayaan ekonomi masyarakat (Freire; Sen; Chambers), middle theory modal kerja dan perilaku keuangan usaha mikro, serta applied theory manajemen piutang dan ketahanan laba, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Informan penelitian berjumlah sepuluh orang yang dipilih secara purposive, terdiri dari lima pelaku usaha mikro OAP dan lima informan pendukung. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan-verifikasi. Hasil penelitian mengungkapkan empat temuan utama: (1) modal usaha dikelola secara subsisten dan berbasis pengalaman, tanpa pemisahan yang jelas antara kas usaha dan kebutuhan keluarga; (2) manajemen piutang dijalankan atas dasar kepercayaan kekeluargaan sehingga penagihan bersifat lenient dan mengakibatkan tertahannya modal dalam piutang tidak produktif; (3) hambatan akses permodalan formal mencakup ketiadaan agunan, rendahnya literasi keuangan, dan ketidakbiasaan terhadap prosedur administrasi perbankan; (4) interaksi antara pengelolaan modal yang tidak terstruktur dan manajemen piutang berbasis relasi sosial secara sinergis melemahkan kemampuan mempertahankan laba dalam jangka panjang. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi kebijakan pemberdayaan ekonomi OAP yang perlu mengintegrasikan penguatan literasi keuangan berbasis budaya dengan pendampingan manajemen usaha yang kontekstual