Transformasi digital dalam dunia pendidikan menuntut institusi untuk beradaptasi secara cepat melalui berbagai inovasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses adopsi dan difusi inovasi digital pada aspek pembelajaran dan administrasi di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) melalui perspektif Teori Difusi Inovasi Everett Rogers. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap pimpinan, guru, siswa, serta penyebaran kuesioner terhadap 30 tenaga pendidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi teknologi seperti smart TV, absensi digital, jurnal mengajar digital, dan sistem penilaian berbasis teknologi mendapat respons positif karena memiliki keunggulan relatif (relative advantage), kesesuaian (compatibility), dapat diuji coba (trialability), dan dampak yang dapat diamati (observability). Meskipun demikian, aspek kerumitan (complexity) masih dirasakan oleh kelompok guru senior akibat keterbatasan literasi digital serta hambatan teknis infrastruktur. Pola adopsi guru didominasi oleh kelompok Early Majority (9 guru), diikuti Early Adopter (6 guru), Late Majority (6 guru), Innovator (5 guru), dan Laggard (4 guru). Saluran komunikasi interpersonal terbukti lebih efektif dalam mempercepat difusi dibanding komunikasi instruksional top-down. Kepala sekolah memegang peran krusial sebagai agen perubahan (change agent) dalam memfasilitasi sarana dan kebijakan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pendampingan sejawat dan integrasi kebijakan berbasis tata kelola yang berkelanjutan.