Raudhotul Azkiya
Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fondasi Filosofis Ilmu Pengetahuan: Menelaah Relasi Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kerangka Berpikir Akademik Kontemporer Sehat Sultoni Dalimunthe; Imam Armadani Harahap; Raudhotul Azkiya; Annisa Almutiah Harahap; Miranda Harahap; Isma Miftahul Zannah Harahap
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39933

Abstract

Kajian ini menggali secara mendalam tiga pilar utama fondasi filosofis ilmu pengetahuan, yakni ontologi sebagai disiplin yang menyelidiki hakikat ada dan realitas, epistemologi sebagai teori pengetahuan yang mempersoalkan sumber dan validitasnya, serta aksiologi yang mengkritisi nilai dan tujuan ilmu dalam kehidupan nyata. Ketiganya bukan sekadar kategori terpisah dalam buku teks filsafat; justru sebaliknya, mereka saling menopang dalam satu bangunan epistemik yang sekaligus kokoh dan dinamis. Melalui pendekatan analisis literatur filosofis-hermeneutik dengan memanfaatkan sumber-sumber terkini dari periode 2021 hingga 2025, kajian ini menelusuri bagaimana relasi antarkabang filsafat tersebut membentuk kerangka berpikir akademik yang tidak hanya valid secara logis, melainkan juga bertanggung jawab secara etis dan kontekstual. Temuan utama menunjukkan bahwa fragmentasi di antara tiga dimensi ini menjadi pangkal dari berbagai krisis epistemik dalam praktik keilmuan modern, termasuk dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Dalimunthe (2023) menegaskan bahwa filsafat ilmu pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis secara koheren agar ilmu tidak kehilangan ruh dan arahnya. Tanpa fondasi ontologis yang mantap, epistemologi menjadi buta; tanpa epistemologi yang solid, aksiologi kehilangan pijakan rasionalnya. Integrasi ketiga elemen ini bukan sekadar ideal akademik, melainkan keharusan metodologis yang mendesak.