Kenaikan harga bahan baku kedelai menjadi tantangan utama bagi keberlanjutan agroindustri tahu, termasuk Usaha Tahu SMY di Kampung Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Pada periode April hingga Agustus 2025, harga kedelai yang dibeli oleh Agroindustri Tahu SMY mengalami kenaikan dari Rp 445.000 menjadi Rp498.000 per karung (50 kg), atau meningkat sebesar ±11,91%. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas usaha dan menganalisis keuntungan, titik impas, serta sensitivitas usaha terhadap kenaikan harga bahan baku kedelai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Agroindustri Tahu SMY merupakan industri kecil dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 7 orang dan total produksi sebesar 206.890 potong tahu per bulan. Total pendapatan usaha mencapai Rp126.683.560 dengan total biaya produksi sebesar Rp89.016.463, laba bersih sebesar Rp37.667.097 dan nilai R/C ratio sebesar 1,42 yang menunjukkan usaha layak secara ekonomi. Analisis titik impas menunjukkan bahwa BEP kuantitas tercapai pada 35.676 potong tahu dan BEP penjualan sebesar Rp21.845.294,51, jauh di bawah realisasi produksi dan penjualan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku kedelai sebesar 61,5% menurunkan laba usaha menjadi Rp54.432, sedangkan kenaikan harga bahan baku sebesar 62% menyebabkan usaha mengalami kerugian sebesar Rp236.479. Hal ini menunjukkan bahwa struktur biaya usaha yang didominasi bahan baku kedelai membuat usaha rentan terhadap fluktuasi harga, sehingga diperlukan penyesuaian harga jual atau efisiensi biaya untuk menjaga keberlanjutan usaha.