Penggunaan media sosial yang semakin luas di kalangan remaja telah memunculkan berbagai tantangan psikologis, salah satunya adalah Fear of Missing Out (FoMo). FoMo merupakan kondisi ketika individu merasa khawatir akan kehilangan pengalaman, informasi, atau aktivitas yang dinikmati orang lain sehingga terdorong untuk terus terhubung dengan lingkungan sosialnya (Przybylski et al., 2013). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana FoMo berkontribusi terhadap munculnya perilaku adiktif pada remaja, khususnya perilaku belanja berlebihan dan konsumsi junk food . Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah berbagai hasil penelitian dan literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami FoMo cenderung mengikuti tren yang berkembang di media sosial untuk memperoleh penerimaan sosial dan menghindari perasaan tertinggal (Soetikno & Andreane, 2023). Kondisi tersebut meningkatkan kecenderungan melakukan pembelian impulsif serta mengonsumsi makanan yang sedang viral tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun dampak kesehatannya (Asyifa et al., 2024; Kuntoro et al., 2025). Selain itu, media sosial berperan dalam memperkuat perilaku tersebut melalui paparan konten yang berulang, promosi influencer, dan tren digital yang terus berkembang (Asmayadi, 2024). Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui peningkatan literasi digital, penguatan kontrol diri, pendampingan orang tua, serta layanan bimbingan dan konseling agar remaja mampu mengelola FoMo secara sehat dan terhindar dari perilaku adiktif.