M. Syafii
Ilmu Ekonomi, Universitas Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Hilirisasi Produk Negara Berkembang terhadap Geopolitik Perdagangan Internasional Saidina Umar Nasution; M. Syafii
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.40808

Abstract

Kebijakan hilirisasi produk sumber daya alam di negara berkembang telah menjadi instrumen strategis yang semakin penting dalam konteks geopolitik perdagangan internasional abad ke-21. Kebijakan larangan ekspor bahan mentah yang diterapkan oleh sejumlah negara berkembang, khususnya Indonesia dalam kasus nikel dan bauksit, telah memicu pergeseran mendasar dalam pola perdagangan global sekaligus menimbulkan ketegangan geopolitik yang signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak kebijakan hilirisasi produk negara berkembang terhadap dinamika geopolitik perdagangan internasional, dengan fokus pada implikasi strategis terhadap rantai nilai global, posisi tawar geoekonomi, dan rezim perdagangan multilateral. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, didukung data sekunder dari dokumen WTO, publikasi Badan Pusat Statistik, laporan Kementerian Perdagangan dan Kementerian ESDM, serta laporan World Bank, IMF, OECD, dan UNCTAD periode 2019–2024. Analisis dilakukan melalui model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi berhasil mendorong peningkatan nilai tambah ekspor, menarik investasi asing langsung skala besar, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis global. Namun, kebijakan ini sekaligus menimbulkan sengketa perdagangan internasional, terutama melalui gugatan Uni Eropa di WTO dalam kasus DS592, serta mempertegas kontestasi geopolitik atas penguasaan rantai pasok mineral strategis. Penelitian menyimpulkan bahwa hilirisasi produk negara berkembang merupakan strategi geoekonomi yang efektif namun kompleks, yang secara simultan membuka peluang transformasi struktural sekaligus memperhadapkan negara berkembang pada ketegangan sistemik antara kepentingan industrialisasi domestik dan disiplin liberalisasi perdagangan multilateral.
Analisis Peluang, Tantangan, dan Dampak Larangan Ekspor Nikel terhadap Perdagangan Internasional di Tengah Gugatan Uni Eropa di WTO Alfin Yudha Utama; M. Syafii
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.40809

Abstract

Larangan ekspor bijih nikel yang diberlakukan Indonesia sejak Januari 2020 merupakan instrumen utama strategi hilirisasi industri nasional, namun kebijakan ini memicu sengketa dagang dengan Uni Eropa yang membawa Indonesia ke hadapan Dispute Settlement Body World Trade Organization (WTO) dalam kasus DS592. Penelitian ini bertujuan menganalisis peluang, tantangan, dan dampak kebijakan larangan ekspor nikel terhadap perdagangan internasional Indonesia di tengah berlangsungnya sengketa tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, didukung data sekunder dari dokumen panel dan Appellate Body WTO, publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta laporan World Bank, IMF, OECD, dan UNCTAD periode 2020–2024. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan model Miles dan Huberman, dengan triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan ekspor berhasil mendorong lonjakan investasi smelter, pertumbuhan ekspor produk olahan bernilai tambah, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Namun, kebijakan tersebut juga menimbulkan tantangan signifikan berupa putusan panel WTO yang menyatakan larangan ekspor dan kewajiban pengolahan domestik Indonesia bertentangan dengan Pasal XI:1 GATT 1994, ketergantungan pada investasi asing, serta risiko retaliasi dagang. Dampak terhadap perdagangan internasional tercermin pada pergeseran struktur ekspor, penguatan posisi tawar geoekonomi, sekaligus ketegangan hubungan dagang dengan Uni Eropa. Penelitian menyimpulkan bahwa kebijakan hilirisasi nikel mencerminkan ketegangan struktural antara kepentingan industrialisasi negara berkembang dan rezim liberalisasi perdagangan multilateral yang diatur WTO.