Fenomena migrasi internasional pekerja perempuan membawa dampak transformatif sekaligus memicu tantangan psikologis yang masif bagi anak-anak yang ditinggalkan di kampung halaman. Kehilangan figur pengasuh utama menempatkan anak pada risiko kerentanan emosional dan stres akademik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran resiliensi sebagai mekanisme protektif internal dalam mempertahankan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) anak pekerja migran. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi literatur (literature review) dengan pendekatan kualitatif melalui teknik analisis isi (content analysis). Sumber data bersumber dari artikel jurnal ilmiah bereputasi periode tahun 2018 hingga 2026 yang diperoleh dari basis data Google Scholar dan SINTA. Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa resiliensi mental berfungsi secara signifikan sebagai penyangga (buffering mechanism) yang mampu mereduksi stres akademik dan kecemasan anak. Ketangguhan ini didorong secara simultan oleh integrasi nilai-nilai psikospiritual dari dalam diri serta dukungan sosial eksternal yang bersumber dari transformasi pola asuh ayah dan keterlibatan keluarga besar (extended family). Kesimpulannya, kapasitas resiliensi yang kokoh menjadi prediktor utama dalam mengantarkan anak pekerja migran untuk mencapai tingkatan psychological well-being yang optimal. Kondisi sejahtera ini dicirikan oleh adanya penerimaan diri yang positif, kemandirian yang matang, dan orientasi masa depan yang jelas meskipun tumbuh tanpa kehadiran fisik orang tua. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan teoretis bagi praktisi bimbingan dan konseling dalam merancang program psikoedukasi keluarga pekerja migran.