Zumrotul Husna
Universitas Negeri Padang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Merencam dan Nuai: Sistem Pertanian Padi Ladang Masyarakat Melayu Jambi Zumrotul Husna; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.280

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis sistem pertanian padi ladang secara tradisional yang dilakukan masyarakat Melayu Jambi di Desa Tanjung, mulai dari tahapan pembukaan lahan (manuk), penanam padi (merencam), panen (nuai). Selain itu juga menjelaskan alat yang digunakan hingga kegiatan ritual pertanian seperti turun baumo dan memasak bubur ayak yang dilakukan pada saat bertani padi ladang. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan tipe studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kajian dokumen, serta dianalisis dengan teori Robert Redfield tentang masyarakat petani (peasant society). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peisan di Desa Tanjung mempertahan padi ladang melalui pemanfaatan lahan adat (tanah ramo) dan lahan tumpangsari padi ladang dengan kelapa sawit sebagai adaptasi terhadap perubahan penggunaan lahan. Seluruh tahapan pertanian dilakukan secara bertahap dengan menggunakan alat-alat tradisional, mulai dari pembukaan lahan, penanam benih (merencam), hingga panen (nuai). Kegiatan pertanian padi ladang disertai ritual keagamaan seperti turun baumo dan makan bubur ayak yang diyakini membawa keselamatan, keberkahan, dan kelancaran dalam proses pertanian. Sistem kerja yang dilakukan oleh petani padi ladang dilakukan dengan sistem kekeluargaan dan gotong royong, mulai dari pembukaan lahan, pelaksanaan ritual pertanian hingga panen padi ladang. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat petani di Desa Tanjung berada dalam posisi sebagai peasant society yang mempertahankan ciri tradisional melalui gotong royong, kekeluargaan, dan praktik tradisional, sekaligus beradaptasi dengan perubahan alih fungsi lahan perkebunan kelapa sawit.