Imaduddin Fadhlurrahman
UIN Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Ontology of Leadership in Crisis: Beyond the Directive Model Toward Collaborative-Adaptive Leadership Imaduddin Fadhlurrahman
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 8 No. 3: July 2026 - In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i3.11620

Abstract

This study aims to examine whether leadership in crisis situations is ontologically distinct from leadership under normal conditions, and to demonstrate that collaborative-adaptive leadership constitutes the most ontologically honest response to the nature of crisis. This study employs philosophical library research through three complementary analytical approaches: philosophical inquiry, hermeneutical analysis, and critical comparative analysis. The directive model operates on three erroneous assumptions reality as already known, the sovereign singular subject, and time as linear sequence all of which collapse when crisis occurs. The phenomenology of Heidegger (Mitsein), Husserl (Einfühlung), and Arendt (plurality) demonstrates that crisis can only be responded to collectively, manifesting through three dimensions: collaboration as recognition of ontological complexity, empathy as ontological capacity, and trust as the foundation of a new shared world. Directive leadership is ontologically incompatible with the nature of crisis as a condition of human being-in-common (being-in-common). This study affirms the importance of integrating ontological, epistemological, and axiological dimensions in leadership theory, while simultaneously opening space for dialectical inquiry into phenomenologically-grounded leadership.
Dari Mīthāq ke Nomos: Rekonstruksi Etika Deontologis Kosmopolitan Al-Qur'an melalui Kriteria "Persetujuan Kontrafaktual" Jürgen Habermas. Imaduddin Fadhlurrahman
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2237

Abstract

Artikel ini merekonstruksi etika deontologis kosmopolitan Al-Qur’an dengan mendialogkan konsep Mīthāq (perjanjian primordial) dalam QS. al-A‘rāf [7]:172 dan kriteria persetujuan kontrafaktual Jürgen Habermas. Studi ini mengisi celah ganda: pembacaan dominan yang membatasi Mīthāq pada teologi dan spiritualitas, serta keterbatasan etika Habermas yang pasca-metafisik sehingga tidak menyediakan fondasi transendental bagi norma moral. Menggunakan analisis konseptual kualitatif dan hermeneutika filosofis-kritis yang merujuk pada tafsir klasik (al-Ṭabarī, al-Rāzī, al-Qurṭubī) dan kontemporer serta teori tindak tutur Searle, artikel ini menganalisis struktur komunikatif Mīthāq sebagai tindak tutur ilahi yang dialogis, universal, dan bebas distorsi kekuasaan. Respons kolektif balā (ya, kami bersaksi) kemudian diposisikan sebagai realisasi aktual situasi tutur ideal yang oleh Habermas hanya dipostulatkan sebagai pengandaian niscaya. Dari pertemuan itu direkonstruksi tiga prinsip etika deontologis kosmopolitan: penghormatan tanpa syarat terhadap martabat manusia, tanggung jawab global asimetris, dan keadilan diskursif. Temuan menunjukkan bahwa Mīthāq memberikan landasan teologis-transendental yang mengatasi defisit fondasional etika prosedural, sekaligus menawarkan kosmopolitanisme teosentris yang mengikat secara universal dan berakar dalam teks Al-Qur’an, serta relevan bagi perdebatan etika global kontemporer yang terus berkembang. Dengan demikian, narasi perjanjian primordial bukan semata peristiwa keselamatan, melainkan basis onto-etis bagi etika global yang mampu menjawab krisis normatif masyarakat yang sangat plural dan terfragmentasi.