Latar Belakang: Penurunan fungsi paru merupakan konsekuensi alami proses penuaan pada lansia yang sering ditandai dengan perubahan frekuensi napas (Respiratory Rate/RR) dan penurunan Arus Puncak Ekspirasi (APE). Diaphragmatic Breathing Exercise (DBE) merupakan intervensi non-farmakologis yang berpotensi memperbaiki mekanika ventilasi paru. Tujuan: Mengetahui pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise terhadap fungsi pernapasan (RR dan APE) pada lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain Quasi-Experiment dengan rancangan Pretest-Posttest with Control Group. Sampel berjumlah 46 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dibagi menjadi kelompok intervensi (n=23) dan kelompok kontrol (n=23). Kelompok intervensi diberikan DBE selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran menggunakan peak flow meter untuk APE dan observasi visual untuk RR. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test.Hasil: Setelah 4 minggu intervensi, kelompok intervensi menunjukkan penurunan rerata RR yang signifikan (p < 0,001) dan peningkatan rerata APE yang signifikan (p < 0,001). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Uji antar kelompok menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai akhir RR (p = 0,002) dan APE (p < 0,001) antara kedua kelompok. Kesimpulan: Diaphragmatic Breathing Exercise berpengaruh signifikan dalam menurunkan frekuensi pernapasan (RR) dan meningkatkan Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada lansia. Intervensi ini direkomendasikan sebagai program rehabilitasi rutin di panti sosial.